WARTABUGAR – Pandemi COVID-19 telah membuat semua usaha harus berpikir keras. Mereka tidak hanya berpikir bagaimana bisa bertahan di masa pandemi dan bersaing dengan kompetitor lainnya. Mereka kini menyadari bahwa teknologi dianggap penting di era ini dimana pembatasan jarak menjadi persyaratan mutlak. Kerumunan dan pertemuan tatap muka dihindari atau dikurangi intensitasnya.

Menurut studi yang dilakukan TNT, perusahaan layanan teknologi global, merilis Laporan Cloud Hybrid 2021, yang memperlihatkan kebutuhan utama yang diperlukan untuk ketangkasan sebuah bisnis, dan peran yang diberikan cloud hybrid dalam membantu bisnis mencapai ketangkasan tersebut.

Menurut laporan yang dipublikasi dan diterima oleh WARTABUGAR 918/3/3021), menunjukkan bahwa pandemi telah memaksa adanya perubahan pada pola pikir budaya di mana organisasi-organisasi global mengadaptasikan rencana ketangkasan mereka dari memulihkan infrastruktu dan aplikasi hingga mengatur karyawan yang bekerja dari kantor dan bekerja dari rumah.

Terlepas dari ketidakpastian ini, pandemi telah memberikan peluang yang signifikan untuk mempercepat inisiatif-inisiatif transformasi digital. Dalam laporan riset yang dilakukan pada 950 pembuat keputusan di 13 negara dengan wilayah terpilih di Asia Pasifik (APAC).

Hasilnya, selain menggambarkan adanya peningkatan ketergantungan pada teknologi, juga ditemukan 90,0% bisnis di APAC setuju bahwa pandemi telah memaksa bisnisnya untuk mengandalkan teknologi lebih dari sebelumnya. Kemudian, 60,3% organisasi-organisasi di APAC secara global sudah menggunakan, atau sedang mengujicoba penggunaan cloud hybrid.

Studi ini menemukan bahwa 31,6% responden di APAC berencana untuk menerapkan solusi hybrid dalam kurun waktu 12-24 bulan ke depan. Sangat jelas bahwa sekarang ini cloud hybrid dipandang penting untuk pemrosesan berbasis data dan pengambilan keputusan secara real time baik sekarang maupun di masa depan.

Christophe Le Caignec, Kepala Operasi TI, di Lefebvre Sarrut Services, mengatakan bahwa infrastruktur TNT memberikan kami untuk fokus pada waktu, sumber daya untuk pengembangan aplikasi dan siklus pengaturan waktu sehingga membantu kami untuk mewujudkan layanan baru untuk dipasarkan lebih cepat.

Saat ini perusahaan, bagaimanapun, perlu mengimplementasikan cloud hybrid dengan cara yang akan mengoptimalkan lingkungan TI untuk memaksimalkan efisiensi. “Inilah sebabnya mengapa lebih dari setengah organisasi (53,6%) sangat setuju tentang kebutuhan untuk terlibat dengan para ahli, seperti penyedia cloud terkelola,” ujar Caignec.

Laporan tersebut menemukan bahwa lebih dari separuh responden di APAC (51,2%) menyatakan bahwa kesulitan dalam mengelola keamanan data merupakan penghalang terbesar dalam mengadopsi cloud hybrid.

“Untuk mengatasi hambatan ini, ketika bekerja di lingkungan yang kompleks seperti itu, maka organisasi-organisasi harus memilih lingkungan TI yang tepat, di mana nantinya secara aman dapat menjadi tuan rumah bagi aplikasi mission-critical mereka yang di tempatkan di cloud publik dan cloud pribadi; dan bekerjasama dengan mitra yang memahami industri tempat mereka bekerja untuk memastikan adanya kepatuhan,” imbuhnya.

Sementara itu, Rob Lopez, Executive Vice President, Intelligent Infrastructure di NTT Ltd., mengatakan bahwa pada saat bisnis ingin menavigasi di tahun yang baru, mereka harus melihat ke lingkungan cloud hybrid yang telah dioptimalkan untuk ketangkasan, keamanan, dan didukung oleh arsitektur jaringan yang tepat sekaligus memenuhi persyaratan kepatuhan.

“Hal ini adalah fondasi dari kesuksesan dalam implementasi cloud dan akan memungkinkan bisnis untuk mengatasi segala bentuk gangguan yang dihadapinya,” kata Lopez.

Aplikasi tiket.com Previous post Tiket.com Luncurkan Work From Hotel (WFH), Apa Kekhasannya?
CEO Brick - Gavin Tan Next post BRICK Dapat Pendanaan Lagi Dari Banyak Investor