Pertumbuhan ekonomi di lihat dari pembangunan infrastruktur
Pertumbuhan ekonomi di lihat dari pembangunan infrastruktur (Foto: gpc.stanford.edu)

WARTABUGAR – Investor global di pasar negara berkembang menjadi cemas karena imbal hasil surat utang Amerika Serikat (AS) meningkat saat kekhawatiran akan kenaikan inflasi. Baik pasar negara maju maupun pasar negara berkembang menyesuaikan tingkat imbal hasil mereka dan yang paling terdampak adalah obligasi negara2 berkembang dengan imbal hasil tinggi. Hal ini dapat menyebabkan gejolak pasar, sama seperti pada 2013.

Itu menurut analisa Ekonom Bank DBS, Radhika Rao, Rates Strategist Bank DBS, Eugene Leow dan Duncan Tan, yang terungkap dalam rilisnya yang diterima WARTABUGAR (15/3/2021). Namun demikian kondisi pasar surat utang di negeri Paman Sam itu tak berpengaruh terhadap fundamental perekonomian Indonesia.

Kedua pengamat ini membeberkan lima faktor terpenting ang membuat ekonomi Indonesia tetap tangguh. Yaitu:

Pertama, kepemilikan asing di pasar modal Indonesia telah menurun. Untuk obligasi pemerintah (government bonds), investor asing cenderung waspada dan mengurangi porsinya sejak pandemi terjadi di awal 2020. Kepemilikan asing saat ini sama dengan pada awal 2020, sekitar Rp970 triliun.

Namun, angka ini menutupi fakta bahwa secara persentase, kepemilikan asing telah menurun menjadi 24% dari 39% pada awal 2020. Secara relatif, proporsi kepemilikan asing atas obligasi pemerintah lebih tinggi pada akhir 2012 (33%), sesaat sebelum gejolak pasar terjadi ketika the Fed mengurangi program pembelian obligasi.

“Hal serupa terjadi pada pasar saham, di mana tingkat kepemilikan asing hanya sedikit di bawah tingkat sebelum pandemi secara nilai. Namun, proporsi kepemilikan asing telah menurun,. kata analis DBS Research. Dengan kepemilikan atas aset dalam rupiah terlihat yang menurun dari sisi historis, ekonom DBS memperkirakan kerentanan terhadap aliran dana keluar telah menurun.

Hal ini bisa juga berlaku untuk Posisi Investasi Asing Bersih Indonesia (Indonesia Net International Investment Position, NIIP). Pada akhir 2012, NIIP Indonesia negatif sebesar USD362 miliar, dengan aset cadangan resmi senilai USD113 miliar. Pada September 2020, NIIP Indonesia meningkat menjadi negatif USD265 miliar dengan cadangan senilai USD135 miliar (data terakhir menunjukkan USD139 miliar pada Februari).

Kedua, peningkatan harga komoditas membantu neraca perdagangan Indonesia. Ada korelasi tinggi antara indeks CRB dan ekspor Indonesia. Secara lebih khusus, peningkatan harga batu bara dan minyak kelapa sawit menguntungkan, sementara peningkatan harga minyak tidak. Neraca perdagangan sudah positif.

Walaupun demikian, Ekonom DBS  mengakui bahwa ini juga disebabkan oleh melemahnya permintaan impor di tengah kelesuan ekonomi domestik akibat COVID-19. Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut, perkembangan ini seharusnya menurunkan kecemasan terkait pendanaan dalam dolar AS dan mendukung rupiah.

Ketiga, defisit anggaran yang terkendali. Pada 2020, upaya untuk mempercepat pengeluaran fiskal menyebabkan peningkatan pengeluaran sebesar 12,2% secara tahunan sementara pendapatan turun hingga -16,7% secara tahunan. “Kendati demikian, defisit anggaran tahunan tetap melebar menjadi -6,09% dari Produk Domestik Bruto (PDB), sedikit di bawah target, yang sebesar -6,3%. Sekitar 83% dana pemulihan ekonomi telah dicairkan dari total anggaran Rp695,2 triliun, sambung analis BDS itu

Pada 2021, pemerintah berencana untuk memperbaiki kondisi defisit dengan target defisit sebesar -5,7% dari PDB, dengan mengandalkan pemulihan kuat (ramalan Kementerian Keuangan 2021 di angka 5% secara tahunan), peningkatan pendapatan terlepas dari penurunan pajak perusahaan dan insentif pandemi, serta kurva pandemi, yang melandai, berkat program vaksinasi. Paket stimulus untuk pemulihan ekonomi meningkat menjadi Rp628 triliun dari Rp404 triliun. Ekonom DBS memperkirakan pengeluaran fiskal pada triwulan ke-I 2021 dilakukan dengan hati-hati sebelum memasuki triwulan ke-II, seperti dalam beberapa tahun terakhir (lihat grafik di bawah ini).

Penerbitan obligasi baru ditetapkan sebesar Rp1207 triliun untuk tahun ini, tetapi Kementerian Keuangan memberikan sinyal, yang membesarkan hati, bahwa nilai ini dapat dikurangi dengan memanfaatkan dana dari tahun 2020, yang belum digunakan, senilai Rp80-120 triliun atau 6-10% dari rencana penerbitan.

Permintaan di lelang baru-baru ini gagal mencapai target, dan dengan demikian meningkatkan ketergantungan pada pemain lokal, dengan Bank Indonesia menyerap seperempat (pembelian kotor) dari alokasi pada triwulan ke-I. Skala penerbitan obligasi lebih kecil juga akan membantu melindungi Indonesia dari pergerakan imbal hasil global, yang kurang menguntungkan.

“Sebagai catatan umum, analisis antarnegara DBS menunjukkan bahwa fiskal metrik Indonesia jauh lebih baik dibandingkan dengan negara berkembang lain– membuat sikap kebijakan Indonesia berlawanan dengan pasar berkembang lain – mengisyaratkan anggaran/pinjaman akan disesuaikan jika ekspektasi pertumbuhan gagal memenuhi harapan,” kata pernyataan analis itu.

Keempat, valuasi masih menarik.  Indikator Valuasi Tingkat Pengembalian Asia (Asia Rates Valuation Indicator, ARVI) menunjukkan bahwa IndoGB adalah salah satu dari dua obligasi pemerintah yang dinilai masih cukup murah jika dibandingkan dengan surat berharga pemerintah AS.

Secara umum, imbal hasil pasar berkembang paling terdampak oleh gejolak pasar kali ini. Pandemi menyebabkan investor asing  enggan kembali berinvestasi di aset pasar berkembang. Fenomena ini terjadi kemungkinan akibat pandangan bahwa pasar negara berkembang baru akan bisa mencapai taget vaksinasi secara nasional pada 2022, dibandingkan dengan pasar negara maju yang diperkirakan akan dapat memvaksinasi sebagian warganya pada triwulan ke-II 2021.

Namun, Ekonom DBS yakin bahwa pasar negara berkembang akan kembali menjadi pusat perhatian saat optimisme akan pasar negara maju mencapai titik maksimal. Dalam hal selisih imbal hasil (perbedaan imbal hasil obligasi 10 tahun dibandingkan dengan surat utang pemerintah AS), imbal hasil secara umum berada di tingkat menengah. Walau selisih imbal hasil sedikit lebih ketat pada awal tahun, angkanya jauh di bawah angka pada awal 2013 saat gejolak ekonomi terjadi.

“Jelas bahwa selisih imbal hasil tidak selebar dibandingkan dengan saat krisis ekstrim, seperti, hal-hal terkait pandemi dan gejolak pasar,” ucapnya. Ekonom DBS yakin bahwa investor akan lebih menghargai pasar negara berkembang dalam beberapa bulan mendatang.

Kelima, imbal hasil IndoGB, yang relatif tinggi, menawarkan prospek imbal hasil absolut positif untuk pendapatan tetap pada tahun penuh tantangan ini. Ekonom DBS memperkirakan imbal hasil global akan meningkat hingga akhir tahun. Secara lebih khusus, Ekonom DBS memperkirakan peningkatan imbal hasil surat utang pemerintah AS bertenor 10 tahun hingga 10-15 bps, mendekati angka 1,75%.

Mengingat besarnya ekspektasi untuk peningkatan imbal hasil pada 2021, obligasi Asia, terutama yang menawarkan imbal hasil rendah, akan menghadapi tantangan sangat besar dalam memberikan imbal hasil absolut positif. Ekonom DBS berpendapat bahwa IndoGB merupakan salah satu dari sedikit pengecualian. Dengan asumsi gejolak obligasi AS berada di tingkat sedang, imbal hasil IndoGB, yang lebih tinggi, serta kurva, yang tajam, lebih dari cukup untuk menutupi kerugian akibat peningkatan imbal hasil.

Line Bank Previous post LINE dan BumiLangit Luncurkan Stiker Animasi
area komersial baru di Grand Wisata Next post Ini Bakal Kota Baru di Kawasan Bekasi