Read Time:2 Minute, 25 Second

WARTABUGAR – Sebuah studi penelitian oleh Datareportal menunjukkan bahwa per Januari 2019, lebih dari 150 juta orang Indonesia menggunakan Internet. Jumlah tersebut terbesar keempat di dunia setelah India, China, dan Amerika Serikat.

Denyut genderang transformasi digital di berbagai industri di Indonesia semakin bergaung keras mulai dari ritel dan kesehatan, hingga keuangan dan pendidikan – berkat beberapa faktor seperti adopsi cepat dari sebagian besar penduduk Indonesia yang masih relatif muda, serta pertumbuhan cepat kelas menengah yang fasih akan dunia digital yang mendorong sektor e-commerce di Indonesia, pandemi global yang sedang berlangsung.

Hal ini, menurut Surung Sinamo, Country Manager of F5 Indonesia, membuat perusahaan mengubah operasinya agar menjadi lebih responsif untuk memberikan pengalaman digital kelas dunia yang diharapkan pelanggan. Aplikasi juga menjadi incaran penjahat dunia maya dan telah merugikan perusahaan dan organisasi hingga lebih dari $100 miliar setahun serta mengganggu pengalaman pelanggan.

Laporan terbaru Experian, seperti dalam rilisnya yang diterima WARTABUGAR (29/1/2021), menunjukkan bahwa meskipun 50% perusahaan Indonesia mengumpulkan data pengguna untuk menciptakan pengalaman yang dipersonalisasi, 40% dari bisnis yang disurvei mengakui bahwa mereka juga menghadapi peningkatan kerugian akibat penipuan online pada tahun 2019.

Dalam 2020 Curve of Convenience Report F5, 9 dari 10 konsumen menyatakan bahwa mereka menghargai kenyamanan dan pengalaman pengguna yang mulus daripada keamanan, perusahaan perlu memastikan bahwa aplikasi mereka memberikan pengalaman dan keamanan tanpa hambatan kepada pelanggan, dan juga memberikan visibilitas yang terperinci untuk menciptakan keunggulan kompetitif berdasarkan data-driven customer insights.

Sebagian besar aplikasi tradisional tidak dapat memenuhi tuntutan ini, terutama jika dalam skala yang besar. Dalam State of Application Services Report F5 tahun 2020, perusahaan mengalami kesulitan dalam mengelola keamanan aplikasi mereka di lingkungan multi-cloud saat ini.

Ditambah dengan meningkatnya popularitas edge computing, area permukaan ancaman menjadi berkembang pesat. Aplikasi Adaptif untuk Lanskap Pengalaman Digital Baru Dalam dunia aplikasi adaptif, F5 membayangkan dunia di mana portofolio aplikasi organisasi beradaptasi dengan lingkungan yang berubah-ubah.

Untuk mewujudkan visi aplikasi adaptif ini, F5 telah melakukan beberapa akuisisi strategis, termasuk akuisisi NGINX pada 2019 dan Shape Security tahun lalu. Akuisisi ini memberikan nilai lebih bagi pelanggan dengan menggabungkan keahlian F5 dan NGINX mendukung lebih dari separuh aplikasi yang ada di dunia di semua jenis lingkungan, dengan kemampuan teknologi Shape memungkinkan untuk memitigasi 1 miliar serangan aplikasi per hari melalui AI canggih, analitik berbasis cloud, dan teknologi anti-fraud.

F5 juga baru saja menyelesaikan akuisisi Volterra minggu ini, sebuah platform edge-as-a-service universal pertama. Akuisisi ini akan semakin membantu F5 dalam mewujudkan visi aplikasi adaptif dengan platform Edge 2.0 pertama untuk perusahaan dan penyedia layanan yang mengutamakan keamanan dan berbasis aplikasi dengan skala tak terbatas untuk menghadirkan solusi keamanan aplikasi dan pengiriman aplikasi terdepan di semua lingkungan.

“Dengan menggabungkan kemampuan F5, NGINX, Shape, dan sekarang Volterra, untuk mewujudkan aplikasi adaptif, F5 secara fundamental mengubah cara pengamanan dan pengiriman aplikasi, yang pada akhirnya membantu pelanggan kami di Indonesia untuk memberikan pengalaman digital berbeda yang diharapkan pelanggan mereka,” tambah Sinamo.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Hongaria Menangkan Tender Penerapan Sistem Pembayaran Tol Elektronik
AXA Mandiri Next post Tenang, Peserta Asuransi AXA Mandiri Yang Kena COVID-19, Bisa Klaim. Ini Buktinya