Read Time:1 Minute, 5 Second
Bambang Brodjonegoro
Bambang Brodjonegoro

WARTABUGAR – Perkembangan obat herbal asal Indonesia terus menggembirakan. Jumlah obat herbal yang sudah masuk kategori fitofarmaka pun bertambah. Padahal obat jenis ini sudah terbukti secara klinis. Namun, sayangnya masih banyak dokter diklaim tidak meresepkan obat herbal yang dikenal sebagai obat modern asal Indonesia (OMAI).

Ini tentu menjadi perhatian serius Menteri Riset dan Teknologi Bambang BroDjonegoro. Ia melihat banyak hambatan yang dialami OMAI agar bisa dikonsumsi. Salah satunya adalah Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 54 Tahun 2018. Di situ diatur bahwa OMAi belum bisa masuk dalam atau digunakan sebagai obat rujukan dalam program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat. (JKN-KIS).

“Karena Permenkes bukan masalah boleh tidaknya dipakai, masuk JKN-nya itu yang penting,” katanya pada katanya seperti dilansir Kompas.com (21/12/2020). Artinya, jika OMAI didaftarkan sebagai daftar obat yang digunakan program JKN, yakni BPJS Kesehatan, otomatis konsumsi akan terjadi secara massif.

Dengan naiknya konsumsi, akan berdampak pada industri farmasi, terutama industri lokal: bertambah pula jumlah produksi OMAI.

“Permintaan ini hanya bisa muncul kalau dia masuk JKN, suka tidak suka JKN adalah fokus penanganan kesehatan Indonesia saat ini,” imbuhnya.

Selain soal Permenkes, Bambang juga menyesalkan masih sedikitnya dokter yang meresepkan OMAI kepada pasien, karena sudah memiliki komitmen untuk menggunakan obat kimia dari perusahaan tertentu.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
penandatangan kerjasama BPJS Kesehatan Previous post Untuk Permudah Pembayaran Iuran, BPJS Kesehatan Gandeng Amanah Medivest Gemilang
Fachmi Idris (kanan) Next post BPJS Kesehatan Lengkapi Data Sampel Yang Bisa Digunakan Masyarakat