24 Juli 2021

Warta Bugar

Informasi Segar dan Sehat Sekitar Kita

Peran PR Sangat Penting Untuk Menangkal Hoaks Yang Berseliweran di Pandemi

Tanggung jawab public affair penting untuk menjaga agar informasi yang ada di publik tidak berdampak buruk bagi kepentingan organisasi dan lembaga, sekaligus tidak semakin menjerumuskan publik pada hal-hal negatif yang dapat menimbulkan kericuhan.
Agung Laksamana
Agung Laksamana

WARTABUGAR – Sepanjang tahun 2020, sejumlah isu hangat kerap menjadi sorotan publik, mulai dari polemik vaksin Covid-19, dinamika geopolitik global, kondisi politik nasional, dan kebijakan sosial lainnya yang berpotensi untuk menimbulkan gelombang misinfomrasi (hoaks), ujaran kebencian maupun sentimen negatif publik.

Sebagai praktisi komunikasi publik, baik di tataran perusahaan maupun organisasi pemerintah, terdapat tanggung jawab penting untuk menjaga agar informasi yang ada di publik tidak berdampak buruk bagi kepentingan organisasi dan lembaga, sekaligus tidak semakin menjerumuskan publik pada hal-hal negatif yang dapat menimbulkan kericuhan.

Public Affairs Forum Indonesia kembali hadir sebagai wadah untuk mensinergikan tiga fungsi strategis baik dari publik, pemerintah, dan bisnis dalam membangun narasi optimisme tentang Indonesia yang lebih produktif dan kondusif.

Dalam rilisnya yang diterima WARTABUGAR (17/12/2020), Agung Laksamana selaku Ketua Penyelenggara Public Affairs Forum Indonesia (PAFI) dan Director Corporate Affairs APRIL Group mengatakan, praktisi Public Affairs sebagai seorang komunikator sekaligus negosiator haruslah berpikiran progresif,  memiliki strategi, serta mampu membuat narasi pesan yang positif kepada seluruh audiensnya, baik di internal, media, pemerintah, konsumen atau aktivis.

“Melalui Public Affairs Forum ini, kita menghadirkan ide-ide, taktik serta contoh inovatif yang dibutuhkan untuk meraih positif influence kepada para stakeholders, yang lebih penting lagi, membangun reputasi dan trust organisasi kita di 2021,” tambahnya.

Turut hadir beberapa tokoh senior di kalangan Public Affairs dan praktisi komunikasi lainnya, salah satunya CEO Freeport Indonesia dan Dewan Pembina PAFI Tony Wenas.

Ia mengatakan bahwa Public Affairs merupakan jembatan komunikasi antara swasta dan pemerintah, koperasi dan publik, pemerintah dengan masyarakat, dan stakeholder lainnya, dan juga garda terdepan dalam menyampaikan dan menerima informasi untuk membangun harapan semangat optisme masyarakat Indonesia.

Selain itu, M. Fadjroel Rahman, Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi/Juru Bicara Presiden dalam diskusi pagi tadi menuturkan pentingnya vaksinasi informasi tidak benar yang tersebar masif di platform digital.

”Untuk menuju Indonesia waras digital, perlu upaya urun rembuk dalam menghadapi misinformasi melalui peningkatan volume atau kecepatan menyebarkan narasi-narasi baik,” tambahnya.

Kemudian, Djauhari Oratmangun, Duta Besar RI untuk RRT & Mongolia memaparkan proses komunikasi publik di China yang minim misinformasi yang membantu proses pemulihan Covid-19 lebih cepat. “China bersama-sama mencegah misinformasi dengan menimbulkan pemberitaan positif secara masif. Kita juga perlu membangun komunikasi publik yang optimisme di Indonesia,” terangnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Lukito juga pentingnya melakukan komunikasi publik agar masyarakat menjadi konsumen yang cerdas dalam mengonsumsi obat dan produk. ”Untuk membangun masyarakat cerdas, perlu membangun aspek trust dengan terus mencari solusi komunikasi publik yang tepat dan melibatkan semua komponen bangsa sesuai dengan target produk dan populasi,” pungkasnya.