WARTABUGAR – Untuk meningkatkan kepedualiannya terhadap lingkungan hidup, Conservation International, DBS Bank, National University of Singapore (NUS), dan Temasek telah mengeluarkan laporan bersama yang membahas mengenai Kasus Bisnis untuk Solusi Iklim Alami: Wawasan dan Peluang bagi Asia Tenggara.

Laporan tersebut diluncurkan pada sesi virtual Ecosperity Conversations, yaitu serangkaian dialog yang diselenggarakan oleh Temasek, yang berfokus pada keberlangsungan hidup.

Sebagai kajian pertama yang diadakan di Asia Tenggara, laporan tersebut membahas peluang usaha untuk berinvestasi dalam solusi iklim alami (NCS) — teknologi mitigasi perubahan iklim yang memanfaatkan proses alami untuk mengurangi atau menghilangkan gas rumah kaca. Tujuannya, untuk mendorong penggunaan NCS dalam skala besar.

Laporan tersebut juga memaparkan hal-hal yang dapat dilaksanakan oleh pelaku usaha untuk mencari peluang NCS dan melibatkan diri ke dalam sektor publik di wilayah tersebut.

“Dalam penerapan solusi iklim alami skala besar, kita memerlukan kerjasama antara sektor publik dan swasta guna mengerahkan modal finansial dan pelestarian sumber daya alam kita,” ujar Robin Hu, Kepala Sustainability & Stewardship Group, Temasek seperti dalam rilisnya yang diterima WARTABUGAR (10/12/2020).

Laporan ini, lanjut Hu,  menyatukan berbagai perspektif dari para pelaku di berbagai sektor guna mendefinisikan kasus investasi untuk solusi iklim alami di Asia Tenggara, sebagai salah satu kawasan paling tinggi penyerapan karbon terestrial dan karbon birunya.

Menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), pemanasan global diproyeksikan mencapai 1,5°C antara 2030 dan 2052. Secara jangka panjang, hal ini akan berdampak negatif pada sistem alam dan juga manusia, yang dapat mengakibatkan naiknya permukaan air laut, dan meningkatkan peristiwa cuaca ekstrem yang mematikan.

Studi memperlihatkan bahwa NCS berperan penting dalam menanggulangi dampak yang menghancurkan ini. Dengan dampak potensi mitigasi sebesar 11 gigaton CO2 setiap tahunnya, NCS dapat menyediakan lebih dari sepertiga aksi penanggulangan yang diperlukan untuk memenuhi target Persetujuan Paris di tahun 2030.

Namun sayangnya, kurang dari 3% dari pembiayaan iklim global dialokasikan untuk NCS, hal ini mengindikasikan perlunya investasi untuk menutupi kesenjangan pembiayaan yang diperlukan untuk dapat meningkatkan NCS dalam mencapai target iklim saat ini yang ditetapkan oleh pemerintah guna mencapai emisi nol bersih pada 2050.

Laporan baru tersebut menyoroti peranan yang dapat diambil oleh bisnis dalam membantu menjembatani kesenjangan tersebut, serta berbagai keuntungan bisnis yang dapat diperoleh. Pertama, sektor swasta memiliki keunggulan utama sebagai investor di bidang NCS.

Apabila dibandingkan dengan sektor publik, sektor swasta seringkali dapat dengan lebih cepat menanamkan investasi lebih besar yang tidak terlalu rentan terhadap risiko politik. Sektor swasta juga lebih terampil dalam mengembangkan model finansial yang lebih hemat biaya dan dapat bertahan lama dengan sendirinya (financially self-sustaining).

Kedua, karena sektor swasta dapat menanamkan modal dengan cepat dan dalam jumlah yang besar, bisnis memiliki posisi unik untuk mempercepat investasi di bidang NCS serta merangsang pasar karbon yang berkembang pesat melalui pembelian offset. Untuk memastikan pasar karbon ini efektif, bisnis juga harus berkomitmen pada kredit yang berkualitas tinggi dan harga yang merata, mendukung biaya desain dan pengembangan, serta terlibat dalam pengembangan dan advokasi kebijakan.

Ketiga, proyek-proyek NCS sebanding dengan alternatif  rekayasa lainnya (seperti teknologi penangkapan, pemanfaatan dan penyimpanan karbon) yang dalam hal biaya dan laba investasi, tetap jauh lebih menguntungkan apabila, mempertimbangkan manfaat non-karbon seperti dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan lainnya.

Ketika diterapkan dengan pengamanan yang tepat, proyek-proyek NCS dapat memberikan dampak positif yang jauh melebihi penyerapan karbon, seperti pelestarian keanekaragaman hayati dan layanan ekosistem bagi masyarakat setempat seperti penyediaan air bersih, makanan, dan mitigasi risiko bencana.

Keempat, risiko proyek NCS dapat dikurangi melalui advokasi kebijakan, penerapan teknologi, penyangaan biaya, dan keterlibatan masyarakat.

“Asia memiliki banyak ekosistem yang paling kaya akan karbon di dunia seperti hutan tropis, gambut, dan hutan bakau,” kata Dr Richard Jeo, Senior Vice President, Conservation International Asia-Pacific Divisi Lapangan.

Sayangnya, sekalipun alam telah menyediakan teknologi terbaik yang paling hemat biaya untuk menghilangkan karbon dari atmosfer, kekurangan pendanaan masih terjadi meskipun berbagai komitmen baru terhadap iklim telah dibuat oleh perusahaan setiap harinya. Laporan ini memberikan roadmap yang jelas bagi investasi langsung dalam solusi iklim alami.

Manfaat NCS di kawasan Asia Tenggara sungguh luar biasa. Dengan hutan hujan yang sangat luas serta hutan bakau dan lamun yang lebat, negara-negara di kawasan Asia Tenggara memiliki kondisi yang sangat menguntungkan untuk investasi dan implementasi NCS dalam karbon terestrial maupun karbon biru, termasuk potensi besar untuk karbon yang layak diinvestasikan.

Sebagai contoh, sebuah studi baru yang dilakukan oleh NUS Centre for Nature-based Climate Solutions tahun ini memperlihatkan bahwa perlindungan hutan tropis di Asia Tenggara berpotensi menghasilkan laba investasi hingga US$27,5 miliar setahun.

Kemajuan signifikan telah dibuat dalam penerapan dan pemberian insentif untuk NCS di negara-negara Asia Tenggara. Sejumlah negara telah mengembangkan peraturan yang relevan, sehingga memberikan peluang besar untuk mendorong penerapan NCS.

Analisis tingkat negara yang mengevaluasi kebijakan  penting bagi investasi NCS, termasuk diantaranya peluang keterlibatan kebijakan untuk meningkatkan NCS, tercantum di halaman 61-64 dari laporan ini. (HKW)

 

Tes covid-19 di bandara Previous post SehatQ Ditunjuk Jadi Mitra Booking Test COVID-19 Di Bandara
Generali Next post Generali Luncurkan Gerakan #GeneraliTebarSemangat