23 November 2020

Warta Bugar

Informasi Segar dan Sehat Sekitar Kita

Meski Pandemi COVID-19, Pengendalian Diabetes Harus Tetap Jalan

Kalbe Nutritionals melalui produk Diabetasol bekerjasama dengan PERSADIA menggelar aktivitas menyambut Hari Diabetes Sedunia. Berbagai kegiatan dilakukan seperti, edukasi kepada pasien diabetes dan bagaimana olahraga yang baik di masa pandemi.
Pemeriksaan tekanan darah
Pemeriksaan tekanan darah

WARTABUGAR – Sepuluh tahun sudah Urip menjalani pola hidup sehat. Hal ini dilakukan laki-laki berumur 65 tahun itu bukan tanpa sebab. Dokter memvonisnya menderita penyakit diabetes tipe 2 8 tahun yang lalu.

Upayanya menuai hasil lumayan. Warga Bukittinggi, Sumatera Barat ini kini tidak tampak terlalu gemuk. Tingginya sekitar 158 dan berat badan 55 kilogram. Jika diukur dengan indeks masa tubuh, terbilang normal.

“Memang masih agak sedikit berisi untuk wanita seusia saya. Cuma dokter minta saya tetap jaga berat badan biar gak over dengan rutin berolahraga,” katanya kepada WARTABUGAR.

Sejak terkena penyakit gula, Urip memang mengubah pola makanan. Ia menjalani pola makanan sehat dan gizi berimbang. Nasi putih yang biasanya dikonsumsi diganti dengan nasi merah yang kadar karbohidratnya lebih rendah. Selain mengurangi asupan makanan dengan kadar gula tinggi.

Sekali-sekali ia mengonsumsi Diabetasol yang dibelikan anaknya.

“Saya sebenarnya nggak suka juga yang manis-manis. Kalaupun mau minum teh hangat gulanya yang rendah gitu. Jadi saya ganti. Itu pun paling sekali seminggu saja,” imbuhnya. “Kalaupun saya mau yang manis-manis paling ya buah-buahan yang kadar gulanya gak begitu tinggi.”

Warga Pondok Timur Indah, Bekasi ini didiagnosa kena diabetes setelah mengalami gangguan penglihatan. Ketika memeriksa matanya, dokter menganjurkan Urip menjalani pemeriksaan darah. Setelah hasil laboratorium keluar, dokter mendiagnosa penglihatan Urip yang terganggu berkaitan dengan kadar gula darah yang tinggi. Maklum, kadar gulanya sudah menembus angka 250 miligram per desi liter (mg/dl) – jauh di atas kadar normal 140 mg/dl ketika tidak berpuasa.

Dokter lalu memberikan obat, salah satunya obat penurun gula darah. Tidak beberapa lama obat dikonsumsi secara rutin, penglihatannya mulai terang kembali. Lalu agar gula darahnya tetap terkontrol ia rutin berolahraga yang sesuai dengan anjuran dokter. Namun kini upaya mengontrol penyakitnya terganggu oleh pandemi COVID-19 yang sudah berlangsung sejak Maret 2020.

Tahun ini, penanganan diabetes memang mengalami hambatan signifikan akibat pandemi COVID-19. Orang lanjut usia dan orang dengan diabetes sebagai penyakit penyerta lebih rentan mengalami pelemahan kondisi bila terinfeksi virus COVID-19.

Diabetesi (penderita diabetes) yang terinfeksi COVID-19 lebih sulit diobati karena fluktuasi level gula darah dan kemungkinan hadirnya komplikasi diabetes. Sistem imunitas tubuh diabetesi yang telah terpengaruh, menjadikannya lebih sulit melawan virus atau membutuhkan waktu pemulihan lebih lama.

Selain itu, ada kemungkinan aktivitas virus dapat menjadi lebih kuat terutama dalam kondisi pada saat gula darahpasien sedang tinggi. Itu terungkap dalam edukasi virtual mini yang digelar PT Kalbe Nutritionals lewat Diabetasol dalam rangka mempengeringati Hari Diabetes Sedunia yang jatuh pada setiap tanggal 14 November 2020.

Dalam acara tersebut juga digelar beberapa acara, antara lain, special sales program di toko resmi KALCare di aplikasi Shopee, dan program CSR bagi para caregiver dan tenaga kesehatan yang bekerja sama dengan PERSADIA dan Pandu Diabetes.

Ketua PERSADIA dan konsultan endokrin metabolik RS Soetomo Surabaya Prof. Dr. dr. Agung Pranoto, menyadari pandemi COVID-19 telah mengambat aktivitas penanganan diabetes. Pasien diabetes juga kesulitas melakukan aktivitas yang berkaitan dengan upaya menjaga kadar gula darah normal dan terkendali.

Pasien juga relatif kesulitan menjalin komunikasi dengan dokter. Ini karena ada pembatasan jarak dan kekuatiran penyandang diabetes terpapar COVID-19 bila berobat ke dokter yang berpraktek di rumah sakit. Hal ini dilakukan untuk mengevaluasi sejauh mana pola hidup sehat telah diterapkan dan menguatkan motivasi dari diabetesi.

Akibat pemantauan kesehatan pasien dikawatirkan terganggu selama pandemi COVID-19. Padahal jika lalai, penyakitnya bisa bertambah parah. Bila itu terjadi akan sulit pengobatannya.

Menurut Agung, pada saat ini semua progress jadi slowing down. Volume kegiatan PERSADIA cabang juga sangat menurun. Ada yang mau mencoba mengadakan kelas senam, tetapi pihaknya sudah mengeluarkan edaran bahwa harus koordinasi dengan Dinas Kesehatan setempat. “Kita tidak mau ada cluster diabetes karena risikonya masih besar,” kata Agung.

Sejauh ini memang virtual meeting bisa jadi alternatif sambil menunggu masa new normal. “Alternatif virtual ini diperlukan agar semangat dan motivasi diabetesi tetap terjaga. Memang jangkauan metode virtual belum sepenuhnya mampu menggantikan offline event. Namun yang penting kita tetap kreatif, optimis, dan fokus mencari solusi,” ujar Agung.

Dalam kesempatan yang sama, dokter spesialis penyakit dalam konsultan endokrin metabolik dari RSUP dr. Sardjito Yogyakarta, dr. R. Bowo Pramono, juga mengakui alternatif virtual ini menjadi kesuksesan tersendiri dalam peringatan Hari Diabetes Sedunia tahun ini.

Dengan teknologi daring, semua keterbatasan dapat teratas. “Tantangan ke depannya bagaimana kreativitas semacam ini bisa lebih intensif kita lakukan. Tidak cuma ketika WDD, tetapi di luar WDD juga harus sekreatif ini,” tutur Bowo.

Selain itu, perlu dipertimbangkan pula bagaimana melibatkan masyarakat lebih luas agar peduli diabetes. “Diabetes yang terdeteksi ini kan baru jumlah kecil, di masyarakat itu sebenarnya jumlahnya bisa 2-3 kali lipat. Jika mereka bisa kita ajak mengikuti edukasi, kita bisa lebih mampu mencegah risiko komplikasi diabetes,” kata Bowo menjelaskan.

Selanjutnya, Director of Special Needs & Healthy Lifestyle Nutrition KALBE Nutritionals Tunghadi Indra, mengatakan bahwa pihaknya melalui produk bermerk terus bersemangat melakukan program edukasi diabetes meskipun dihadang berbagai hambatan karena COVID-19.

Tunghadi menjelaskan bahwa dikawal tim dokter profesional di berbagai kota, melalui program edukasi kali ini kami menawarkan pendekatan yang terbukti mampu mencegah atau menunda timbulnya risiko komplikasi diabetes tipe 2 melalui perubahan gaya hidup yang dapat dicapai dengan dukungan caregiveratau keluarga, terutama diterapkan di masa pandemi COVID-19.

“Kami berharap bahwa bersama Diabetasol, para penyandang diabetes (diabetesi) lebih mudah menangani gejala diabetesnya dan bisa tetap hidup sehat,” ucap Tunghadi.

Bagaimana Trik Menjaga Kesehatan Diabetesi di Masa Pandemi?

Hal yang penting bagi diabetesi adalah bagaimana menjaga kadar gula darah tetap pada kadar normal atau sesuai standar yang diberikan para dokter. Ada pun kadar gula darah normal untuk usia di atas 12 tahun adalah 80 mg/dl di saat puasa dan 140 mg/dl pada saat tidak berpuasa.

Selain mengonsumsi obat yang diresepkan dokter, pasien juga harus menjaga pola makannya agar gula darahnya tetap stabil. Dengan kata lain harus sesuai dengan pola makan diabetes. Yang dimaksud dengan pola makan diabetes antara lain dengan pola makan sehat dan gizi yang berimbang Mengenai hal itu bisa dilihat dalam situs diabetes.com/id.

Di situ terdapat penjelasan mengenai penyakit yang dikenal sebagai penyakit kencing manis serta berbagai tips untuk mengendalikan diabetes agar tetap beraktivitas tanpa kawatir penyakitnya bertambah parah.

Satu hal lain yang tak kalah penting adalah bagaimana mengatur aktivitas olahraganya agar kalorinya bisa terbuang, sehinggga kadar gula darahnya tidak melonjak di atas normal. Diabetesi perlu memilih olahraga yang bersifat aerobik, seperti jalan cepat, jogging, bersepeda, dan berenang.

Dalam hal ini, peran PERSADIA menjadi penting. Ketua PERSADIA Sumatera Bagian Utara Dr. H. Syafruddin Ritonga, mengakui masih ada 50 persen masyarakat yang belum paham diabetes karena kurangnya pengetahuan. Umumnya, mereka mengetahui diabetes setelah terdeteksi dan berkonsultasi dengan dokter. Tak jarang mereka baru sadar setelah terjadi komplikasi. “Selain itu, harus diakui juga kepedulian masyarakat tentang kesehatan masih minim,” katanya.

Di sisi lain, menurut Syafruddin, diabetesi banyak yang rendah diri karena merasa tidak memiliki harapan hidup dan menyusahkan orang lain. “Padahal, bila mau berusaha mengubah pola hidup semakin sehat, diabetesi dapat menjalani kehidupan normal,“ papar Dr. Ritonga. Untuk itu peran Diabetesol menggelar berbagai acara edukasi sangat dihargai.