23 November 2020

Warta Bugar

Informasi Segar dan Sehat Sekitar Kita

Ini Bahaya Polusi Udara Jakarta Terhadap Kesehatan Paru

Polusi udara di Jakarta sudah sangat memprihatinkan. Ini tidak baik untuk orang yang berolahraga atau jalan-jalan sehat. Bila terhirup, bisa merusak organ paru-paru dan menimbulkan penyakit.

WARTABUGAR – Adanya pandemi Covid-19 membuat sebagian besar masyarakat memilih kegiatan olahraga luar ruangan (outdoor) agar kesehatannya tetap terjaga. Beberapa pilihan olahraga yang paling banyak diminati antara lain bersepeda, lari, jalan santai, hingga bermain futsal. Namun, nyatanya ada risiko pada kesehatan yang kurang disadari saat melakukan olahraga outdoor, yakni bahaya polusi udara.

Hal ini yang mendasari Nafas, sebuah aplikasi kualitas udara lokal, merilis data adanya risiko kesehatan saat olahraga outdoor pukul 04.00 – 09.00 WIB berdasarkan Polusi Particulate Matter (PM 2,5) dunia. Dengan temuan ini, diharapkan masyarakat dapat merencanakan waktu dan durasi terbaik dalam berolahraga outdoor secara aman.

Piotr Jakubowski, Co-founder & Chief Growth Officer nafas menjelaskan, Sudah bukan rahasia bahwa polusi udara sudah menjadi masalah terbesar di dunia, termasuk Indonesia. Ibukota Jakarta pun saat ini masuk ke dalam peringkat keempat kota paling tercemar di dunia.

“Melihat adanya tren olahraga outdoor yang semakin marak, kami mencoba untuk mengamati data kualitas udara di Jabodetabek yang diharapkan bisa menjadi penentu keselamatan saat berolahraga,” kata Jakubowski dalam rilisnya yang diterima WARTABUGAR (17/11/2020).

Berdasarkan data temuan, banyak lokasi yang sering kali memiliki tingkat PM2.5 yang telah melebihi 100 (ambang batas aman). “Tentu ini menyoroti pentingnya mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan untuk olahraga yang aman. Jangan sampai risiko kesehatan dari polusi udara ternyata melebihi manfaat berolahraga,” sambung Jakubowski.

Berdasarkan lima wilayah yang dipantau selama 30 hari pada bulan Agustus 2020, (DKI Jakarta, Tangerang, Tangerang Selatan, Depok, Bekasi), kota dengan pembacaan PM2,5 rata-rata terendah adalah Bogor dan Jakarta Pusat.

Sebaliknya, dua daerah yang paling memprihatinkan adalah Tangerang Selatan dan Bekasi yang memiliki kualitas udara 5 hari tidak layak untuk berjalan di luar selama lebih dari 30 menit. Sampel tersebut diambil dari 46 sensor kualitas udara di wilayah Jabodetabek pada eksposur selama olahraga pagi, yakni pukul 05.00 – 09.00 WIB.

Data temuan lainnya, rata-rata kualitas udara pada Jumat pagi di sebagian besar lokasi di Jabodetabek lebih baik dari hari-hari lainnya. Untuk wilayah Jakarta Pusat dan Tangerang, Kamis pagi lah yang memiliki kualitas udara terbaik selama seminggu.

Adapun beberapa hari dengan kualitas udara terburuk adalah Minggu, Selasa, dan Rabu bergantung pada lokasinya. Di wilayah Tangerang, Tangerang Selatan, Jakarta Selatan dan Bogor, Minggu menjadi hari dengan polusi tertinggi.

Tingginya tingkat polusi ini pun berpengaruh pada efektivitas lamanya berolahraga yang disarankan. Semakin tinggi tingkat PM2.5 (melebihi 100), maka semakin singkat waktu olahraga yang disarankan. Berdasarkan studi dari University of Cambridge yang berjudul “Dapatkah polusi udara menghapus manfaat kesehatan dari bersepeda dan berjalan kaki?”, jika level PM2.5 mencapai 100 ug/m3, maka berolahraga di atas 90 menit tidak akan bermanfaat bagi tubuh dan justru membahayakan tubuh. Selanjutnya, jika tingkat PM2.5 di atas 165 ug/m3, maka waktu olahraga yang optimal adalah maksimal 30 menit.

Dr. Erlang Samoedro, Dokter Spesialis Paru (Pulmonologist) menjelaskan bahayanya jika PM2.5 terhirup. “Sekali kita berolahraga, tingkat pernapasan akan meningkat signifikan hingga 40-60 napas per menit, berbeda dengan aktivitas normal yang hanya mengambil napas 15 kali per menit,” ujar Erlang.

Ditambah lagi, intensitas olahraga yang berbeda menyebabkan perbedaan volume udara yang dihirup. Tentu adanya peningkatan pernapasan saat berolahraga di kualitas udara yang buruk semakin memberi risiko jumlah aerosol yang terhirup, termasuk PM2.5. “Beberapa risiko penyakit yang mungkin muncul karena terhirupnya PM2.5 antara lain asma, stroke, dan kanker paru-par,” imbuh Erlang

Uniknya, tingkat kualitas udara di Jabodetabek selama jam olahraga sangat bervariasi. Suatu hari kualitas udara bisa bagus, di hari lain bisa buruk. Sebagai contoh, dari pantauan nafas selama sebulan penuh, Bogor, Jakarta Pusat, Depok, Jakarta Timur dan Jakarta Selatan memiliki kualitas udara yang dapat diterima untuk berolahraga pada 1 Agustus.

Namun pada 7 Agustus, olahraga sebaiknya dibatasi hanya sampai 90 menit di semua wilayah Jakarta, kecuali Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Ini semakin menegaskan betapa pentingnya mengukur kualitas udara kita tepat sebelum kita melakukan olahraga.

Dari pengamatan yang sama, nafas juga melihat waktu terbaik untuk melakukan olahraga berdasarkan data per jamnya untuk setiap wilayah kota. Rata-rata, kualitas udara terburuk adalah antara pukul 02.00 hingga 09.00, yang mana mulai membaik dan terus membaik sepanjang hari hingga sekitar pukul 17.00.

Salah satu atlet lari asal Indonesia yang juga merupakan Brand Ambassador dan Athlete Under Armour Global, Adinda Sukardi menceritakan pengalamannya saat berpergian ke Cina dan menyempatkan diri untuk berolahraga di sana. “Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan kondisi kualitas udara di negara tersebut saat berolahraga di sana,” tutur Adinda.

“Namun karena kondisi udara yang buruk, saya sempat mengalami masalah pernapasan. Dari situ, saya sadar betul pentingnya melakukan tindakan antisipasi, salah satunya memastikan kualitas udara di  area sebelum mulai olahraga. Selain itu, memperhatikan waktu terbaik untuk berolahraga juga penting. Informasi ini bisa saya dapatkan dari adanya aplikasi nafas yang dapat memberikan data kualitas udara yang mudah diakses dan digunakan.”