Read Time:3 Minute, 30 Second

WARTABUGAR – Smile Train Indonesia, organisasi nirlaba internasional, bekerja sama dengan Pusat Rehabilitasi Kementrian Pertahanan dan Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik Indonesia (PERAPI) meluncurkan program terapi wicara bagi pasien celah bibir dan/atau langit-langit pasca operasi operasi.

Kolaborasi tersebut diumumkan pada acara Bakti Sosial Operasi Gratis Sumbing Bibir dan Sumbing Langit Langit Dalam Rangka Memperingati Hari Pahlawan 10 November 2020 di RS Dr. Suyoto Pusat Rehabilitasi Kemhan.

Yang hadir dalam acara ini antara lain Penasehat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementrian Pertahanan Ny. Ernawati Trenggono, didampingi Ketua DWP Kemhan Yayuk Donny Ermawan.

Terapi wicara merupakan salah satu dari serangkaian perawatan komprehensif yang disediakan oleh Smile Train untuk meningkatkan kualitas hidup pasien pasca operasi.

Kapusrehab Kemhan Budiman, yang juga sebagai Ketua Umum Perhimpunan Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik Indonesia mengaku antusias dapat berkolaborasi dengan Smile Train Indonesia untuk mendukung program perawatan komprehensif bagi pasien celah bibir dan/atau langit-langit.

Apalagi Pusrehab Kemhan memiliki fasilitas Rumah Sakit Dr Suyoto yang memiliki layanan unggulan bidang rehabilitasi medik. “Kami sadar bahwa masih banyak anak-anak di seluruh penjuru Indonesia yang belum bisa mendapatkan akses ke perawatan komprehensif pasca operasi,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima WARTABUGAR (11/11/2020).

“kami berharap Pusat Rehabilitasi Kementrian Pertahanan ini dapat menjadi akses bagi para pasien dan dapat lebih luas menjangkau pasien-pasien yang membutuhkan perawatan komprehensif, tidak hanya di sekitar Jakarta, tetapi di seluruh Indonesia,” sambung Budiman.

Di Indonesia, banyak anak terlahir dengan kelainan celah bibir dan/atau langit-langit di Indonesia. Kondisi tersebut dapat membawa berbagai dampak pada kualitas hidup anak serta berbagai masalah kesehatan seperti kesulitan makan, bernapas, dan kesulitan mengembangkan kemampuan berbicara secara normal.

Seperti anak-anak pada umumnya, anak-anak yang lahir dengan celah bibir dan/atau langit-langit belajar berbicara dari hari pertama sejak mereka dilahirkan dan mengeluarkan suara-suara sebagaimana bayi terlahir tanpa kondisi celah bibir dan/atau langit-langit.

“Namun, ke depannya perkembangan kemampuan berbicara anak-anak ini dapat terhambat karena mereka tidak dapat menggunakan bagian-bagian rongga mulut untuk berbicara dengan normal. Hal ini dapat menyebabkan hambatan komunikasi seperti keterbelakangan berbicara, masalah artikulasi, hypernasality, dan berbagai masalah lainnya.” Ucap Budi Satriyo Utomo, Kepala Bidang Rehabilitasi Medik Pusrehab Kemhan.

Anak-anak yang lahir dengan celah bibir dan/atau langit-langit kemungkinan mengalami kesulitan mengembangkan kemampuan berbicara secara normal. Prosedur operasi untuk menutup celah bibir dan/atau langit-langit biasanya dapat menyelesaikan masalah kemampuan berbicara secara fisiologis.

Namun, untuk sebagian anak, dibutuhkan perawatan lebih lanjut, yakni terapi wicara, untuk dapat mengembangkan kemampuan berbicara secara normal. Terapi wicara disarankan diberikan kepada pasien untuk membantu meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan membangun rasa percaya diri pasca operasi.

Terapi wicara dapat dilakukan setidaknya 2 minggu setelah operasi apabila pasien dinyatakan sehat, mampu mengikuti rangkaian terapi, dan mendapatkan persetujuan dari dokter terkait. Biasanya terapi wicara dibantu oleh seorang terapis wicara yang bertujuan untuk membantu anak mencapai tingkat kemampuan berbicara dan berkomunikasi yang lazim sesuai dengan usia dan tingkat perkembangan mereka.

Smile Train Indonesia telah beroperasi sejak tahun 2002 dan telah membantu lebih dari 90.000 anak di Indonesia. Tidak hanya operasi gratis, Smile Train juga bekerja sama dengan ratusan Rumah Sakit dan tenaga medis professional di berbagai daerah di Indonesia untuk menghadirkan perawatan celah komprehensif yang aman, berkualitas dan konsisten, yang salah satunya adalah perawatan terapi wicara.

Deasy Larasati, Program Director dan Country Manager Smile Train Indonesia menyampaikan, pihaknya tidak hanya untuk memberikan akses ke operasi gratis celah bibir dan/atau langit-langit, tetapi juga untuk memberdayakan tenaga medis mitra Smile Train, serta memberikan perawat komprehensif sebelum, saat, dan sesudah operasi.

“Kami ingin lebih banyak masyarakat sadar bahwa operasi celah bibir dan/atau langit-langit pada anak hanyalah awal dari lebih banyak langkah lagi bagi anak untuk mencapai kualitas hidup pasca-operasi yang lebih baik,” tutur Deasy.

Selanjutnya, Kepala Rumah Sakit Dr Suyoto Pusrehab Kemhan, Daniel menyatakan pihaknya siap menjadi salah satu mitra Smile Train dan Perapi dalam melaksanakan Pelayanan komprehensive terhadap pasien sumbing bibir dan sumbing langit- langit dalam bentuk pelayanan operasi secara gratis serta menjadi pusat rujukan rehabilitasi khususnya untuk program speech terapi gratis untuk pasien pasca operasi sumbing langit – langit.

Terapi wicara merupakan salah satu dari serangkaian perawatan komprehensif yang disediakan oleh Smile Train untuk meningkatkan kualitas hidup pasien pasca operasi.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Tugu Insurance Dapat Penghargaan Dari ThinnovateComm
perlindungan kesehatan penghuni oleh rukita Next post Rukita Ajak Mitranya Jaga Kesehatan Penghuni Rumah Selama Pandemi