Read Time:2 Minute, 36 Second

WARTABUGAR – Meski kasus yang sembuh dari COVID-19 mendekati kasus yang positif, Singapura belum terlihat melakukan pelonggaran secara signifikan. Sebagian besar pegawai di Singapura terus bekerja dari rumah. Berdasarkan kajian the UOB ASEAN Consumer Sentiment Study, pengaturan kerja yang fleksibel merupakan hal yang sangat penting dalam mencapai keseimbangan dalam pekerjaan dan kehidupan pribadi sebagai bagian dari norma bekerja pasca COVID-19.

Menurut survei yang hasilnya diterima WARTABUGAR (20/10/2020), Hampir tiga perempat kolega di Singapura berharap keseimbangan pekerjaan dan kehidupan akan menjadi lebih baik karena opsi bekerja dari rumah kian menjadi hal yang permanen (73%). Tujuh puluh persen dari responden tersebut menyatakan produktivitas mereka akan lebih baik karena mereka memiliki kebebasan yang lebih besar dalam mengatur jam kerja.

Ada pun survei ini dilaksanakan oleh UOB dan Blackbox pada bulan Juli 2020 terhadap 3.510 responden berusia antara 18 hingga 65 tahun di lima negara ASEAN, antara lain 1.030 dari Singapura dan  2.480 dari Indonesia, Malaysia, Thailand dan Vietnam.

Pandangan optimis dari para kolega di Singapura ini muncul di tengah sentimen yang negatif mengenai dampak COVID-19 terhadap stabilitas pekerjaan. Kajian the UOB ASEAN Consumer Sentiment Study menemukan bahwa hampir 9 dari 10 pegawai di Singapura (89%) merasa bahwa jam kerja mereka perlu ditambah agar tidak kehilangan pekerjaan.

Tren yang serupa juga ditemukan di negara-negara ASEAN lain yang disurvei seperti Indonesia (92%), Malaysia (90%), Thailand (87%) dan Vietnam (90%). Dibandingkan dengan kolega di negara-negara lain di ASEAN, kolega di Singapura juga memiliki kekhawatiran yang terbesar (88%) bahwa perusahaan tempat mereka bekerja akan memilih untuk melakukan penghematan dalam upaya menekan biaya di tengah perlambatan perekonomian.

Dean Tong, Head of Group Human Resources, UOB, menGatakan bahwa seraya perusahaan-perusahaan membuat rencana ke depan bagi perusahaan dan tempat bekerja, sejauh mana pengaturan bekerja yang fleksibel akan menjadi hal yang penting dalam menjaga keseimbangan pekerjaan-kehidupan, produktivitas dan keterlibatan.

Menurutnya, enam bulan terakhir ini menjadi salah satu periode yang paling disruptif bagi perusahaan-perusahaan dan para kolega.  Akan tetapi secara umum, masyarakat Singapura dapat mengatasi tantangan tersebut dan beradaptasi dengan cara bekerja yang baru.

Karena mereka kini melakoni cara bekerja yang baru, banyak pegawai berharap adanya fleksibilitas yang lebih tinggi dalam hal bekerja dari mana pun karena hal ini membuat mereka lebih produktif dan sesuai dengan keseimbangan kehidupan-pekerjaan.

“Mengembangkan tempat kerja yang dapat menyeimbangkan antara produktivitas dan fleksibilitas bagi pegawainya untuk dapat bekerja dari mana pun adalah hal yang penting bagi para pegawai untuk memiliki keseimbangan pekerjaan-kehidupan dan kesejahteraan,” ujar Tong.

Untuk memungkinkan para koleganya menjaga keseimbangan pekerjaan-kehidupan yang sehat melalui pengaturan bekerja yang fleksibel, UOB telah mengembangkan sebuah model bekerja campuran yang mana para pekerja yang memenuhi syarat dapat memiliki opsi untuk bekerja di kantor atau bekerja di mana pun.

UOB juga tengah menguji sejumlah skenario, merancang ulang tempat bekerja dan memperbaiki infrastruktur digital untuk menjamin kolega tetap dapat bekerja dengan baik dalam cara kerja yang baru ini.

Untuk mendorong kesuksesan kolega, UOB juga tengah merencanakan sesi pelibatan visual dalam rangka mempersiapkan mereka pada masa transisi ini dan juga tengah mengembangkan program pelatihan bagi manajer di UOB untuk memungkinkan mereka mengelola tim dalam lingkungan kerja yang hibrida.

 

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Advan Nasa Plus Previous post Guna Mendukung Belajar Daring, ADVAN Luncurkan Advan Nasa Plus
Vaksinasi BCG Cegah TB Next post Lima Warga Korsel Meninggal Usai Divaksinasi Flu