Read Time:3 Minute, 21 Second
Petani tembakau (istimewa)

WARTABUGAR– Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI) meluncurkan hasil studi kualitatif kehidupan petani Tembakau di Indonesia di tengah upaya pengendalian tembakau.

Acara tersebut dibarengi dengan peluncuran hasil studi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) bersama American Cancer Society, Australia National University, dan McGill University mengenai analisis ekonomi usaha tani tembakau di Indonesia. Kedua penelitian dilakukan di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara Barat.

PKJS-UI secara terpisah dengan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) bersama American Cancer Society (ACS), Australia National University (ANU), dan McGill University melakukan penelusuran terhadap rumah tangga petani tembakau dan mantan petani tembakau di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat.

Studi PKJS-UI merupakan studi kualitatif dengan pemilihan lokasi wilayah secara purposive berdasarkan luas area lahan, jumlah petani, dan alokasi DBHCHT.

Sedangkan Data dikumpulkan UGM-ACS, ANU, McGill University dengan menggunakan survei rumah tangga dan diskusi kelompok terarah bersama para petani dan pemangku kepentingan lainnya, yang dikombinasikan dengan kajian komprehensif terhadap berbagai dokumen dan data statistik resmi.

Studi UGM-ACS, ANU, McGill University melakukan survei pertanian tembakau pada 2 gelombang, yaitu gelombang 1 musim tani 2016 (Oktober s.d. Desember 2016) dan gelombang 2 musim tani 2017 (Desember 2017 s.d. Januari 2018).

Gelombang survei dalam penelitian ini bertepatan dengan tahun yang buruk untuk pertanian secara keseluruhan (gelombang 1) dan tahun yang baik untuk pertanian secara keseluruhan (gelombang 2) di Indonesia.

Menurut hasil studi itu, sistem pertanian tembakau belum berpihak pada kesejahteraan petani. Seluruh petani swadaya/mandiri pada penelitian PKJS-UI menjual tembakau kepada tengkulak atau bandul (perantara). Harga dan kualitas tembakau ditentukan oleh tengkulak.

Petani memiliki daya tawar yang rendah termasuk dalam penentuan kualitas tembakau yang ia tanam. Seluruh informan mengeluhkan rendahnya harga tembakau yang sering ditawar oleh tengkulak, namun mereka tetap menjualnya karena khawatir tidak laku.

Studi UGM-ACS, ANU, McGill University juga menunjukkan bahwa tingginya harga tembakau sangat bergantung pada pembeli daun yang memiliki kendali sangat kuat terhadap pasar. Selama dua tahun penelitian, median pendapatan petani non-tembakau secara signifikan lebih baik daripada petani mereka yang menanam tembakau.

Suci Puspita Ratih, MPH selaku Peneliti PKJS-UI mengemukakan bahwa jumlah tembakau impor juga semakin tinggi di Indonesia, yang pada akhirnya membuat kesejahteraan petani tembakau lokal dipertanyakan.

Produksi dan produktivitas petani tembakau diperkirakan tidak mengalami kenaikan yang signifikan antara tahun 2018- 2020. Sedangkan pertumbuhan produksi dan produktivitas tembakau dari tahun 2017-2018 sebesar 7,92% dan 6,36% berturut-turut.

“Impor tembakau juga perlu dikendalikan karena serapan tembakau virginia lokal juga masih rendah ke perusahaan. Petani harus diberi pembinaan agar kualitas tembakau mereka setara atau lebih baik dari tembakau impor, sehingga serapan tembakau lokal ke perusahaan meningkat,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima WARTABUGAR.

Secara umum, kondisi ekonomi petani akan lebih baik jika membudidayakan tanaman non-tembakau atau melakukan kegiatan ekonomi di luar pertanian.

“Sejumlah petani tembakau mempertimbangkan untuk beralih karena harga yang rendah, sebagian karena merasa penilaian mutu yang tidak adil serta cuaca yang tidak menguntungkan. Setelah mengalami kerugian ketika menanam tembakau, petani yang beralih ke tanaman non-tembakau biasanya memperoleh keuntungan” jelas Gumilang Aryo Sahadewo, Ph.D, salah satu peneliti UGM-ACS, ANU, McGill University.

Selama ini tembakau paling banyak diolah menjadi rokok, dimana rokok merupakan produk berbahaya. Perilaku merokok diketahui berdampak negatif pada kesehatan, sosial ekonomi, dan lingkungan.

Untuk itu disarankan cukai rokok dinaikkan. Karena kenaikan cukai produk tembakau akan menaikkan harga rokok, sehingga rokok menjadi tidak terjangkau bagi anak-anak, remaja, dan masyarakat miskin.

Selain itu, kenaikan cukai produk tembakau juga meningkatkan pendapatan negara melalui penerimaan cukai dan pendapatan daerah melalui Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT).

Melalui pengelolaan alokasi DBHCHT yang baik, petani dapat memperoleh bantuan seperti alih tanam, diversifikasi, maupun pengolahan tembakau menjadi produk non-rokok.

“Petani sendiri lebih mengeluhkan pada sistem tata niaga tembakau yang merugikan, bukan pada kenaikan cukai. Bahkan petani ingin kenaikan cukai berdampak langsung pada petani melalui alokasi DBHCHT. Oleh karena itu, kenaikan cukai bisa menjadi win-win solution antara masyarakat, pemerintah, dan kelompok petani,” pungkas Aryana Satrya, Ketua PKJS-UI.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Please follow and like us:
Pin Share
Salah satu outlet Erajaya Previous post Era Jaya Buka Outlet Baru di Grand Indonesia
Next post Ini Gunanya Berolahraga Bagi Otak
RSS
Follow by Email