21 July 2024

Ngeri, Obesitas Bikin Orang Jadi Pelupa

Read Time:1 Minute, 52 Second
Para peneliti Australia menunjukkan bahwa otak terganggu pada pasien obesitas. Kecil kemungkinan mereka mengingat berbagai hal.
Obesitas Perut (Foto: newssummedup.com)

WARTABUGAR – Obesitas selama ini dikenal bisa berbahaya bagi organ tubuh, seperti berisiko terkena penyakit antara lain, jantung, hipertensi, dan diabetes. Namun studi terbaru dan boleh dibilang pertama kali di dunia menunjukkan bahwa obesitas bisa juga berdampak bagi kemampuan otak mengatur ulang otak.

Dalam makalah baru yang diterbitkan di Brain Sciences yang dikutip Science Daily (24/9/2020), para peneliti dari UniSA dan Deakin University – keduanya berlokasi di Australia –  menunjukkan bahwa plastisitas otak terganggu pada orang-orang yang obesitas, sehingga kecil kemungkinan mereka dapat mempelajari tugas-tugas baru atau mengingat berbagai hal.

Seseorang dikatakan menderita oobesitas didasarkan pada indeks massa tubuh (BMI) yang menghitung rasio antara tinggi dan berat badan untuk menentukan lemak tubuh. Orang dewasa yang memiliki BMI antara 25 dan 29,9 dianggap kelebihan berat badan. Sedangkan di atas itu, dikategorikan sebagai obesitas.

Menggunakan serangkaian eksperimen yang melibatkan stimulasi magnetik transkranial, para periset menguji 15 orang gemuk berusia antara 18 dan 60 tahun, membandingkan mereka dengan 15 orang dalam kelompok kontrol berat badan yang sehat.

Mereka lalu memantau denyut stimulasi listrik yang berulang diterapkan ke otak untuk melihat seberapa kuat responsnya.

Sementara itu, pada kelompok kontrol yang memiliki berat badan yang normal, periset juga mencatat aktivitas saraf yang signifikan sebagai respons terhadap rangsangan. Hasilnya, menunjukkan respons plastisitas otak yang normal. Sebaliknya, respon pada kelompok obesitas sangat minim, sehingga kapasitasnya untuk berubah terganggu.

Peneliti UniSA, Dr Brenton Hordacre menjelaskan bahwa temuan ini memberikan bukti fisiologis pertama tentang hubungan antara obesitas dan penurunan plastisitas otak.

“Obesitas sudah dikaitkan dengan serangkaian efek kesehatan yang merugikan, termasuk risiko penyakit kardiovaskular yang lebih tinggi, gangguan metabolisme, dan demensia,” kata Dr Hordacre.

“Untuk pertama kalinya, kami menemukan bahwa obesitas dikaitkan dengan gangguan fungsi otak, menambahkan dukungan lebih lanjut untuk kebutuhan mengatasi epidemi obesitas.

“Penemuan baru ini menunjukkan bahwa menurunkan berat badan sangat penting untuk penuaan otak yang sehat atau untuk pemulihan pada orang yang menderita stroke atau cedera otak, di mana belajar sangat penting untuk pemulihan.”

Stroke adalah penyebab kematian paling umum ketiga di Australia dan penyebab utama kecacatan, yang memengaruhi kemampuan bicara, kognisi, dan memori.

Kemampuan otak untuk menemukan jalur baru sangat penting untuk pemulihan, kata Dr Hordacre. Di seluruh dunia, 15 juta orang menderita stroke setiap tahun, sepertiganya meninggal. (aries kelana)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Fachmi Idris (kanan) Previous post Berikut Ini Nama Panitia Seleksi Direksi dan Pengawas BPJS Kesehatan
Next post FDA Peringatkan Bahaya Tren Obat Benadryl di TikTok