pria obesitas
Pria obesitas

WARTABUGAR – Testosteron biasanya digunakan untuk mengatasi gangguan reproduksi pada pria dan meningkatkan sperma yang loyo atau kandungan hormon tersebut yang rendah pada pria.

Namun studi terbaru yang dikerjakan selama lebih dari 11 tahun menunjukkan bahwa suntikan testosteron bisa menjadi pengobatan baru untuk obesitas pada pria. Itu berdasarkan riset Perusahaan farmasi Bayer, Jerman, dan ilmuwan Gulf Medical University di Uni Emirat Arab.

Hasilnya menunjukkan bahwa terapi testosteron jangka panjang mungkin sebanding dengan operasi penurunan berat badan, dengan risiko komplikasi yang lebih rendah.

Data baru-baru ini dipresentasikan di virtual European and International Congress on Obesity dan dikutip Medical News Today (19/9/2020).

Menurut studi itu, terapi testosteron jangka panjang rata-rata mengurangi berat badan hingga 20%.

Dalam studi tersebut, para peneliti mengumpulkan data sejak 2004 dari 471 pria dengan hipogonadisme fungsional, atau produksi testosteron rendah, dan obesitas dari sebuah praktik urologi Jerman.

Sekitar 58% pria menerima suntikan testosteron setiap 3 bulan selama masa penelitian, sedangkan sisanya memilih untuk tidak menjalani terapi dan karena itu bertindak sebagai kontrol. Usia rata-rata peserta adalah 61,57 tahun.

Staf medis mengelola dan mendokumentasikan semua suntikan di ruang praktek dokter, yang memastikan bahwa semua peserta menerima suntikan hormon secara konsisten. Selama riset berlangsung, tidak ada peserta yang keluar dari penelitian.

Walhasil, laki-laki yang menerima testosteron kehilangan rata-rata 23 kilogram (kg) (setara dengan 20% berat badan) selama masa studi, sedangkan mereka yang tidak menerima pengobatan hanya turun rata-rata 6 kg.

Indeks massa tubuh (BMI) juga menurun dengan rata-rata 7,6 poin pada mereka yang menerima terapi testosteron, dibandingkan dengan peningkatan 2 poin pada kelompok kontrol.

Lingkar pinggang, yang merupakan faktor risiko penyakit kardiometabolik, pun menurun rata-rata 13 sentimeter (cm) pada kelompok perlakuan, dibandingkan dengan peningkatan 7 cm pada kelompok kontrol.

Pria yang diobati dengan testosteron juga memiliki lebih sedikit lemak internal (visceral) pada akhir masa studi. Mereka mungkin memiliki risiko penyakit kardiovaskular yang lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak menerima pengobatan.

Secara keseluruhan, 28% pria dalam kelompok kontrol mengalami serangan jantung, dan 27,2% mengalami stroke selama masa studi. Tidak ada kejadian kardiovaskular utama pada pria yang menerima terapi testosteron.

Demikian juga, lebih dari 20% dari kelompok kontrol mengembangkan diabetes tipe 2 selama masa penelitian, tidak ada dalam kelompok perlakuan yang mengembangkan kondisi tersebut.

“Terapi testosteron jangka panjang pada pria hipogonad menghasilkan penurunan berat badan […] yang mendalam dan berkelanjutan, yang mungkin telah berkontribusi pada penurunan angka kematian dan kejadian kardiovaskular,” ujar Farid Saad dari Bayer.

Para peneliti juga mempresentasikan data khusus untuk pria yang memenuhi syarat untuk operasi bariatrik yang meliputi operasi pita lambung, bypass lambung, dan operasi lengan lambung. Operasi ini dilaporkan bisa menurunkan berat badan pula.

Tingkat operasi bariatrik sedang meningkat di AS, dengan lebih dari 250.000 orang menjalani operasi penurunan berat badan pada tahun 2018 saja.

Meskipun operasi bariatrik adalah cara yang terbukti untuk menurunkan berat badan, ada risiko serius yang terkait dengan operasi tersebut, yang tidak selalu memberikan hasil yang positif.

Bagian dari penelitian ini melibatkan 76 pria dengan obesitas kelas 3 (BMI 40 atau lebih), membuat mereka memenuhi syarat untuk operasi bariatrik. Dari jumlah tersebut, 59 menerima pengobatan testosteron dan kehilangan rata-rata 30 kg.

BMI laki-laki juga berkurang rata-rata 10 poin, yang cukup untuk mengeluarkan mereka dari kelas obesitas tertinggi, asalkan BMI mereka kurang dari 50.

Menurut Saad, hasil ini menunjukkan terapi testosteron sama efektifnya dengan operasi bariatrik untuk menurunkan berat badan – tetapi tanpa risiko komplikasi serius.

BPJS Kesehatan: Klinik Mitra BPJS Kesehatan Harus Taat Regulasi Previous post Pandemi Covid-19, Angka Kontak FKTP ke Peserta Harus Tetap Terjaga
PAsien COVID-19 di Rumah Sakit Next post Wah, Obat Herbal Covid-19 Mulai Diakui WHO