Tumpukan tokok (Foto: Istimewa)

WARTABUGAR – Pusat Kajian Jaminan Sosial UniversitasIndonesia (PKJS-UI) meluncurkan hasil penelitian soal rokok. Hasil studi itu membuktikan bahwa adanya beban ganda pada kesehatan, utilisasi kesehatan dan produktivitas pengguna rokok elektronik dan konvensional.

Studi ini menunjukkan bahwa rokok elektrik yang dianggap sebagai alat untuk berhenti dari rokok konvensional, justru menjadi barang yang digunakan untuk melengkapi rokok konvensional sehingga muncul pengguna ganda (dual user).

Dual user memiliki probabilitas mengidap penyakit dan komplikasi lebih tinggi, produktivitas lebih rendah, dan pengeluaran kesehatan lebih tinggi dibandingkan single user. Hal ini menunjukkan bahwa dual user akan mengalami double burden yang akan berdampak ganda pada indikator-indikator tersebut.

Selain itu, berdasarkan rilis yang dikeluarkan PKJS-UI, masing-masing jenis rokok tetap memiliki risiko pada kesehatan baik single user rokok elektronik maupun konvensional sehingga harus dilakukan pengendalian konsumsi pada kedua jenis rokok tersebut.

Prevalensi perokok konvensional (tembakau) dan perokok elektrik semakin menghawatirkan di Indonesia. Prevalensi perokok konvensional aktif usia 15 tahun ke atas mencapai 33,8% dari populasi Indonesia pada 2018 (Riskesdas, 2018).

Sementara itu, rokok elektrik yang pada awalnya diperkenalkan sebagai alat untuk berhenti merokok konvensional, justru menjadi barang yang digunakan untuk melengkapi rokok konvensional sehingga muncul pengguna ganda (dual user).

Lebih dari 95% dari pengguna rokok elektronik merupakan dual user (Susenas 2017 dan 2019 dan Riskesdas 2018). Hal ini juga diperparah penggunaan rokok elektronik sebagai gaya hidup (Jackson et al., 2020).

Hasil studi menyimpulkan bahwa dual user lebih berisiko dibandingkan dengan single user. Ada beberapa poin yang ditunjukkan sebagai berikut:

  • Dual user memiliki probabilitas untuk mengidap penyakit asma, hipertensi, stroke, gagal ginjal, dan rematik lebih tinggi dibandingkan single user.
  • Pada penduduk usia diatas 40 tahun, dual user memiliki probabilitas untuk mengidap penyakit diabetes, jantung, dan kanker lebih tinggi dibandingkan single user.
  • Dual user memiliki probabilitas untuk memiliki gigi rusak, penyakit gusi, dan sariawan lebih tinggi dibandingkan single user.
  • Dual user memiliki asosiasi positif dengan jumlah komplikasi penyakit yang dimiliki dibanding single user.
  • Dual user memiliki jam kerja yang lebih rendah dan utilisasi kesehatan yang lebih tinggi dibanding single user. Dual user memiliki jam kerja 0,69 jam/minggu lebih rendah dibanding single user.

Kemudian, dual user memiliki pengeluaran kesehatan per kapita per bulan Rp 296 dibanding single user.

Selain itu, PKJS-UI juga menganalisis gejala Penyakit, produktivitas, dan utilisasi kesehatan antara Single User perokok elektronik dengan single user perokok konvensional yang menunjukkan bahwa single user perokok elektronik memiliki probabilitas mengidap asma, diabetes, penyakit mulut, dan komplikasi lebih tinggi, produktivitas lebih rendah, dan utilisasi kesehatan lebih tinggi dibandingkan single user perokok konvensional.

Ketua peneliti, Faizal Rahmanto Moeis, mengatakan bahwa hasil studi ini menunjukkan rokok elektronik bukan menjadi substitusi rokok konvensional melainkan sebagian besar perokok elektronik adalah dual user dengan rokok konvensional sehingga keduanya memiliki hubungan saling melengkapi.

“Hal ini menunjukkan bahwa dual user akan mengalami double burden yang akan berdampak ganda pada indikator-indikator yang ditunjukkan dalam studi. Kemudian jika melihat perbandingan antara single user perokok elektronik dengan single user perokok konvensional, menunjukkan bahwa masing-masing jenis rokok tetap memiliki risiko pada kesehatan”, kata Faizal.

Oleh karena itu, Faizal menyebutkan bahwa sebenarnya berhenti merokok, lebih baik daripada beralih rokok. Masalah BPOM tak bisa menindak karena tidak punya payung hukum.

Sementara itu, Ketua PKJS-UI, Ir. Aryana Satrya, M.M., Ph.D mengatakan rokok elektrik dianggap sebagai alternatif yang lebih sehat ataupun alat untuk berhenti mengonsumsi rokok konvensional. Ternyata justru menciptakan perokok dual user yang menjadi beban ganda bagi penggunanya.

Kerjasama Kemenkes dan Daewoong Infion Previous post Alternatif Terapi Pasien COVID-19 Makin Banyak, Antara Lain Sel Punca
Pembangunan infrastruktur tingkatkan daya saing global Next post Tenang, Ekonomi Indonesia Kembali Tumbuh Akhir Tahun Ini