Pasien kanker tengah dikemoterapi

WARTABUGAR – Banyak pasien – termasuk pasien kanker – yang tidak melanjutkan pengobatan karena kawatir bakal tercemar COVID-19. Suntikan yang diberikan kepada pasien dikawatirkan tercemar virus Corona – penyebab COVID-19.

Namun, menurut studi yang digelar ilmuwan Imperial College, London, Inggris, yang dilansir bbc.com (6/8/2020), pengobatan kanker dengan kemoterapi dan imunoterapi aman bagi pasien kanker dengan Covid-19. Studi itu juga merekomendasikan penelitian lebih lanjut tentang obat hidroksiklorokuin, yang tampaknya bermanfaat bagi beberapa pasien.

Itu berdasarkan studi terhadap 890 pasien kanker yang terinfeksi COVID-19 yang tersebar di Inggris, Spanyol, Italia, dan Jerman, dapat membantu mengidentifikasi siapa yang paling berisiko terkena virus corona.

Pasien sebanyak itu tersebar di 19 rumah sakit berbeda di seluruh Eropa, termasuk Rumah Sakit Hammersmith di London.

Dr David Pinato, ketua tim studi, mengatakan bahwa kemoterapi dan imunoterapi tampaknya tidak meningkatkan risiko kematian akibat Covid-19.

“Ini berarti bahwa dalam banyak kasus pengobatan kanker mungkin aman digunakan selama pandemi, tergantung pada keadaan individu pasien dan faktor risiko,” ujarnya.

Dalam studi tersebut, satu dari tiga pasien kanker dengan Covid-19 telah meninggal antara akhir Februari dan awal April silam

Pria, yang berusia di atas 65 tahun dan mereka yang memiliki kondisi kesehatan lain bernasib lebih buruk daripada pasien kanker lain yang terkena virus – faktor risiko yang sama untuk populasi umum.

Tetapi wanita dengan kanker payudara tampaknya terlindungi, sampai batas tertentu, di keempat negara. Angka kematian mereka hanya 15%.

Di antara 890 pasien yang diteliti, lebih dari setengah pasien adalah laki-laki, usia rata-rata 68 tahun, dan 330 pasien menderita kanker stadium lanjut.

Kemudian dari 400 pasien, 80% terpapar COVID-19. Lalu sebanyak 53% menerima terapi, seperempat di antaranya menjalani kemoterapi. Sedangkan sisanya tidak menggunakan terapi apa pun.

Menurut para peneliti, temuan studi ini dapat digunakan untuk mengetahui pasien kanker mana yang paling rentan dan harus melindungi diri dari virus.

Mereka juga mengatakan lebih banyak uji klinis terhadap pengobatan Covid-19 yang muncul pada pasien kanker yang terinfeksi, seperti hidroksiklorokuin, perlu segera dilakukan koreksi. Sebab, menurut hasil studi ini, hidroksiklorokuin aman digunakan.

Menlu Retno di PBB Previous post Kolombia Jadi Pasar Baru Kimia Farma
Next post Keren, Dua Ilmuwan Indonesia Ikut Teliti Vaksin COVID-19 di Inggris