WARTABUGAR – Dalam rangka menyambut Hari Anak Nasional, Fatayat Nahdlatul Ulama bersama dengan Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI) menggelar webinar zoom meeting.

Dalam pertemuan virtual itu Fatayat NU bersama dengan PKJS-UI menyampaikan beberapa poin penting yang tertuang dalam policy recommendation pengendalian konsumsi rokok di era “kebiasaan baru” COVID-19, untuk mewujudkan perlindungan anak Indonesia agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

Anak-anak sebagai generasi penerus bangsa harus diselamatkan dari dampak rokok dengan berbagai upaya penyelamatan melalui kenaikan dan simplifikasi cukai hasil tembakau serta penerapan Kawasan tanpa rokok.

Data Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan RI (2018) menunjukkan angka perokok pada kelompok usia 10-18 tahun meningkat dari 7,2% (2013) menjadi 9,1% (2018). Angka ini jauh dari target RPJMN di tahun 2019 sebesar 5,4% (Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional, 2014).

Hasil studi PKJS-UI pada tahun 2018 menunjukkan anak-anak dari orang tua perokok kronis memiliki pertumbuhan berat badan secara rata-rata lebih rendah 1,5 kg dan pertumbuhan tinggi badan rata-rata lebih rendah 0,34 cm.

Dampak kejadian stunting tersebut juga berpengaruh terhadap intelegensi anak. “Perilaku merokok menimbulkan pergeseran (shifting) konsumsi. Uang yang dapat dibelikan makanan digunakan untuk membeli rokok oleh masyarakat miskin sehingga nutrisi tidak tercukupi dan akhirnya menimbulkan stunting pada anak.” ujar Ir. Aryana Satrya, M.M., Ph.D, Ketua PKJS-UI.

Dalam mewujudukan perlindungan anak secara optimal, dibutuhkan kebijakan pengendalian tembakau yang kuat dan berdampak terutama di era kebiasaan baru pandemi COVID-19, diantaranya melalui mekanisme kenaikan harga rokok.

Pemerintah diharapakan dapat membuat harga rokok tersebut menjadi semakin tidak terjangkau. Hal ini bertujuan selain menjauhkan anak dari keterjangkauan rokok, juga agar kantong belanja keluarga menjadi lebih sehat. Survei yang dilakukan oleh PKJS-UI pada tahun 2018 terhadap 1.000 responden memperlihatkan bahwa 88% responden mendukung kenaikan harga rokok agar anak-anak tidak membeli rokok.

Pendekatan keluarga juga sangat diperlukan dalam mengendalikan konsumsi rokok. Data Global Youth Tobacco Survey (2019) menunjukkan 57,8% pelajar terpapar asap rokok di rumah, serta 78,4% orang dewasa terpapar asap rokok orang lain di rumah.

“Beberapa perempuan anggota Fatayat NU sudah menjadikan rumah mereka kawasan tanpa rokok, termasuk di dalamnya tidak ada orang yang merokok, tidak tersedia asbak, tidak tercium asap rokok, tidak ada tempat khusus merokok, dan terdapat tanda dilarang merokok berupa stiker sebagai peringatan untuk tidak merokok di area rumah” jelas Anggia Ermarini, MKM (Ketua Umum Fatayat NU).

Di akhir sesi kedua organisasi itu memberikan beberapa rekomendasi tersebut adalah:

  1. Menaikkan cukai tembakau untuk tahun 2021 sesuai dengan pertimbangan yang tertulis dalam Rencana Strategis Kementerian Keuangan RI tahun 2020-2024.
  2. Melarang penjualan rokok ketengan dan membuat peraturan pelarangan penjualan rokok terhadap anak usia di bawah 18 tahun.
  3. Menerapkan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) secara merata di seluruh Kabupaten/Kota tanpa terkecuali oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).
  4. Memasukkan agenda promosi kesehatan mengenai penerapan KTR di rumah, yang tidak kalah pentingnya di era COVID-19 oleh Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA).
Pertumbuhan ekonomi di lihat dari pembangunan infrastruktur Previous post Ngeri, Kepercayaan Masyarakat Terhadap Perekonomian Melemah
Penasehat Ekonomi PM Jepang Usulkan Harga Obat Turun Next post Sektor-sektor Ini Yang Tumbuh di Saat Pandemi COVID-19