Read Time:1 Minute, 41 Second

WARTABUGAR – Tak disangka, di tengah pandemI COVID-19, industri kosmetik, obat tradisional justru makin cuan. Data Badan Pusat Statistik (BPS), pada triwulan I tahun 2020, menunjukkan bahwa kinerja industri kimia, farmasi dan obat tradisional (termasuk sektor kosmetik) mengalami pertumbuhan sebesar 5,59%.

Bahkan, di tengah tekanan dampak pandemi Covid-19, kelompok manufaktur ini mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap devisa melalui capaian nilai ekspornya yang menembus US$ 317 juta atau Rp 4,44 triliun (kurs Rp 14.000/US$) pada semester I-2020 atau naik 15,2% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

“Indikator tersebut menunjukkan bahwa industri farmasi Indonesia tumbuh dengan pesat dan mampu menyediakan sekitar 70% dari kebutuhan obat dalam negeri,” ujar Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian, Doddy Rahadi, Senin (03/08/2020).

Ini kontras dari pernyataan dari Ketua Gabungan perusahaan Farmasi Indonesia (GP Farmasi). Tirto Kusnadi, menyebut industri farmasi justru tumbuh negatif. Berdasarkan data GP Farmasi Indonesia, pertumbuhan industri ini mengalami penurunan hingga minus 1,2%.

Tirto menjelaskan kenapa itu terjadi. Ia bilang selama amsa COVID-19, banyak pasien atau keluarga pasien yang datang berobat – khususnya pasien non-COVID-19. Mereka kawatir berobat ke rumah sakit karena kawatir terpapar COVID-19. “Sehingga permintaan obat-obatan menurun drastis hingga 50-60%,” kata Tirto.

Baca: Di Saat Pandemi COVID-19 Industri Farmasi Tumbuh -1,2%, Kok Bisa?

Sedangkan soal kandungan bahan lokal, menurut Dody, industri farmasi memang harus banyak menggunakan bahan baku lokal. Pasalnya, Indonesia memiliki keunggulan komparatif dibandingkan dengan negara-negara penghasil produk jamu dan kosmetik berbahan alami lainnya seperti China, Malaysia maupun Thailand.

“Indonesia memiliki potensi tanaman obat yang banyak tumbuh di berbagai wilayah dengan jumlah sekitar 30.000 spesies dari 40.000 spesies tanaman obat di dunia dan juga sangat prospektif untuk dikembangkan karena kebutuhan yang cukup potensial di pasar lokal maupun global,” imbuhnya.

“Produk kosmetik saat ini menjadi sebuah tren atau gaya hidup, dan konsumennya tidak hanya kaum perempuan saja. Selain itu, konsumen semakin menggemari produk perawatan kulit (skincare) yang back to nature,” pungkas Doddy.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Merokok Ciutkan Otak Previous post Kenaikan Cukai Rokok Bisa Selamatkan Anak
Pintek dan Ikatan Guru Indonesia doreronasi ke guru h Next post Pintek Gelar Workshop Online Buat Guru