14 Agustus 2020

Warta Bugar

Informasi Segar dan Sehat Sekitar Kita

Ini Penjelasan PSF Terkait Kerjasamanya Dengan Kemendikbud

Yayasan Putera Sampoerna (Putera Sampoerna Foundation / PSF) mengambil langkah menggunakan dana mandiri dalam mengemban kepercayaan yang telah diberikan Kemendikbud untuk menjalankan Program Organisasi Penggerak (POP).

WARTABUGAR – Yayasan Putera Sampoerna (Putera Sampoerna Foundation / PSF) mengambil langkah menggunakan dana mandiri dalam mengemban kepercayaan yang telah diberikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk menjalankan Program
Organisasi Penggerak (POP).

Langkah PSF ini diambil sejalan dengan arahan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nabiel Makarim, guna memastikan terlaksananya program yang telah dirancang dan terpenuhinya kebutuhan peserta didik sesuai dengan jadwal yang telah dirumuskan.

Meski menggunakan dana mandiri, PSF memastikan sinergi bersama Kemdikbud dan para mitra lain baik dalam maupun luar negeri akan tetap terjaga termasuk dalam proses integrasi program dan pengukuran efektivitas program yang dijalankan.

Sejalan dengan arahan Kemendikbud mengenai penguatan gotong royong, Yayasan Putera Sampoerna meyakini bahwa pengembangan pendidikan Indonesia membutuhkan kolaborasi semua pihak.

“Dan sebagaimana telah dilakukan yayasan selama hampir 20 tahun kiprahnya, akan terus mengedepankan kerjasama dengan mitra yang memiliki komitmen yang sama bagipeningkatan pendidikan Indonesia, baik pemerintah, swasta, organisasi masyarakat, di dalam
dan di luar negeri,” kata Ria Sutrisno, Head of Marketing & Communications PSF.

Putera Sampoerna Foundation (PSF) bukan merupakan organisasi CSR dari PT HM Sampoerna Tbk. PSF tidak berafiliasi baik dalam hal legalitas, kepemilikan saham, maupun operasional dengan PT HM Sampoerna dalam bentuk apapun.

PSF terbebas dari segala kepentingan dan dikelola secara profesional dan mandiri dalam menjalankan visi misinya untuk meningkatkan
kualitas dan akses pendidikan Indonesia.

Sejak didirikan pada tahun 2001, PSF yang merupakan yayasan usaha sosial telah secara aktif berkontribusi bagi pengembangan pendidikan di Indonesia melalui berbagai program peningkatan kualitas dan akses pendidikan berkualitas bagi bangsa Indonesia.

Dalam kurun waktu hampir 20 tahun beroperasi sebagai yayasan usaha sosial, program pengembangan oleh PSF telah menjangkau lebih dari 92.000 guru, 155.000 siswa, 855 sekolah dan 40 madrasah di
57 daerah dan 27 provinsi di Indonesia.

Program peningkatan mutu pendidikan Indonesia tersebut dijalankan dengan mengedepankan kerjasama dengan berbagai pihak baik itu swasta,
nasional, dan internasional, termasuk pemerintah daerah, maupun masyarakat yang memiliki visi dan komitmen yang sama.

Sebagai institusi profesional, PSF dikelola dengan profesional dan
secara berkala membuka diri terhadap proses audit oleh pihak eksternal dengan pencapaian laporan audit wajar tanpa pengecualian (WTP).

Menurut Ria, Sejak awal mengikuti seleksi POP, tujuan utama PSF adalah merumuskan program pendidikan yang dapat membantu meningkatkan pendidikan berkualitas yang dapat dijangkau setiap anak Indonesia, yang juga mencakup pendidikan dan pemajuan literasi, numerasi dan penguatan pendidikan karakter bagi para
pendidik dan anak didik.

Yayasan Putera Sampoerna bukanlah CSR dari sebuah perusahaan, melainkan sebuah yayasan yang berfokus pada peningkatan kualitas pendidikan.

“Sejak awal kami berusaha membantu memajukan dunia pendidikan dengan menerapkan sistem pengelolaan keuangan yang independen, dan berkolaborasi dengan mitra yang memiliki komitmen yang sama bagi peningkatan pendidikan Indonesia,” sambung Ria.

Yayasan Putera Sampoerna juga mengalokasikan dana pendampingan sebesar Rp 70 miliar untuk mendukung program peningkatan kualitas guru dan ekosistem pendidikan serta hampir Rp 90 miliar untuk mendukung program peningkatan akses pendidikan.

Menurutnya, Yayasan Putera Sampoerna secara rutin berkolaborasi dengan berbagai mitra dalam mengelola dan melaksanakan secara akuntabel program pendidikan untuk peningkatan akses dan kualitas sekolah dan guru di Indonesia.

“Kami mengajak masyarakat dan pihak-pihak terkait untuk kembali
ke tujuan awal dibentuknya POP yakni untuk kemajuan bangsa Indonesia melalui pendidikan dan pemajuan literasi, numerasi dan penguatan pendidikan karakter bagi para pendidik dan anak didik,” tutup Ria Sutrisno. (akl)