20 July 2024

Kampus Adalah Solusi Ruang Siber Indonesia

Read Time:2 Minute, 5 Second

Bekasi, Warta Bugar – Pengguna internet tanah air di 2020 ini hampir menembus 200 juta orang.

Selalu ada akibat positif maupun negatif dari hal ini. Hal positif
tentunya teknologi di ruang siber membuat semua menjadi serba mudah,
adanya aplikasi dan platform pendukung lain di internet.

Lalu ada juga akibat negatif, mulai dari masalah keamanan siber sampai
pada ketergantungan kita pada aplikasi asing. Semua masalah akhirnya
bermuara pada perang data, jual beli data dan bahkan manipulasi data.

Ekstrimnya pada satu titik, data yang dihimpun dari wilayah siber akan
menjadi senjata bagi entitas negara maupun korporasi multinasional.
Akibatnya, jelas menjadi ancaman bagi masyarakat dan juga negara kita.

Dalam keterangannya di Seminar Nasional Keamanan Siber Universitas
Muhammadiyah Semarang (Unimus) Kamis (27/2), pakar keamanan siber
Pratama Persadha menjelaskan bahwa solusi ruang siber Indonesia adalah
kampus.

Menurutnya dinamika siber dunia tidak bisa hanya dihadapi oleh
negara sendirian.

“Kampus jelas bisa melakukan edukasi siber, bahkan bisa menghasilkan SDM siber yang dibutuhkan negara, kata chairman Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC dalam siaran persnya (27/2).

Dalam hal riset siber, kampus juga bisa menghasilkan produk yang kuat seperti platform yang sudah ada, menjadi pesaing serius platform dari luar negeri,” imbus Pratama.

Hal pertama yang bisa dilakukan kampus adalah edukasi, baik untuk
masyarakat kampus dan juga masyarakat umum. Seharusnya negara dan juga para pelaku industri bisa menggandeng kampus untuk melakukan edukasi keamanan siber.

“Bila edukasi keamanan siber lewat kampus, bisa mengurangi jumlah korban kejahatan siber seperti yang sering terjadi. Mulai dari phising, wifi
sniffing sampai pada social engeneering,” jelas pria asal Cepu jawa
Tengah ini.

Pratama menambahkan salah satu hal paling penting adalah kebutuhan SDM siber bisa dimaksimalkan dari kampus. Digitalisasi terjadi di semua
sektor.

Karena itu dibutuhkan SDM yang melek IT dan mempunyai kemampuan
mumpuni, sehingga tidak bergantung pada SDM luar. Pemerintah sendiri
melalui Kominfo sudah ada program Digital Talent sejak 2019, hal yang
wajib dimaksimalkan, kerjasama pemerintah dengan kampus.

“Dengan SDM siber yang mumpuni dari kampus, pada akhirnya tidak hanya menghadirkan angkatan siap kerja saja, tapi juga individu yang bisa
melahirkan produk dan lapangan kerja. Gojek, Tokopedia, Bukalapak dan
Traveloka sudah menjadi contoh keberhasilan produk dalam negeri,”
terangnya.

Pratama menegaskan, sangat penting negara membantu industri siber dalam negeri berkembang. Kampus bisa menjadi kawah candradimuka riset siber tanah air.

Dikoneksikan dengan dunia industri untuk pembiayaan riset dan
membantu proses masuk dunia industri, di sini fungsi negara sangat
dibutuhkan.

Dalam kesempatan yang sama, Dekan Fakultasn Teknik Unimus RM Bagus
Irawan menjelaskan bahwa masyarakat kampus sangat perlu melakukan
shifting ke dunia digital.

Mulai dari sistemnya, kurikulum sampai pada output SDM yang melek siber. Bahkan mahasiswa non informatika juga diharapkan juga sangat aware dengan keamanan siber. (hkw)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Disfungsi Seksual Wanita Previous post Mengapa 1 dari 5 Wanita Australi Alami Disfungsi Seksual?
Next post Hankook Rangkul Masyarakat Lewat Program Hidroponik