Read Time:1 Minute, 41 Second

Bekasi, Warta Bugar – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Biologi berhasil menemukan sepuluh taksa baru burung di Sulawesi Tengah dan Maluku Utara.

Menurut rilisnya (15/1), penemuan ini merupakan hasil kerjasama antara Pusat Penelitian Biologi LIPI dengan National University of Singapore, Singapura dari kegiatan survei selama enam minggu di provinsi Sulawesi Tengah dan Maluku Utara pada akhir tahun 2013 hingga awal tahun 2014 lalu.

Ada pun lokasi survei, antara lain, meliputi Pulau Peleng di Kepulauan Banggai dan pulau Batudaka di Kepulauan Togean (Sulawesi Tengah) serta Pulau Taliabu di Kepulauan Sula (Maluku Utara). Hasil temuannya dipublikasikan dalam Jurnal Science edisi 9 Januari lalu.

Kesepuluh taksa baru tersebut terdiri dari lima jenis baru dan lima anak jenis baru. Berikut nama spesiesnya dan lokasi temuannya, yaitu: Rhipidura habibiei sp.nov. (ditemukan di Pulau Peleng), Locustella portenta sp.nov. (Taliabu), dan Myzomela wahe sp.nov. (Taliabu).

Kemudian, Phyllocopus suara merdu sp.nov. (Peleng), Phylloscopus emilsalimi sp.nov. (Taliabu), Phyllergates cuculatus sulanus subsp.nov (Taliabu), dan Phyllergates cucullats relictus subsp.nov. (Peleng).

Yang terakhir adalah Cyornis omissus omississimus subsp.nov. (Batudaka), Turdus poliocephalus sukahujan subsp.nov. (Taliabu) , an Ficedula hyperythra betinabiru subsp.nov.(Taliabu).

Profesor Riset bidang zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI, Dewi Malia Prawiradilaga menjelaskan, banyaknya taksa burung baru yang ditemukan dari satu kali ekspedisi ini merupakan prestasi luar biasa dan sangat langka.

“Baru terjadi lagi setelah lebih dari 100 tahun lalu pascaekspedisi yang dilakukan oleh Alfred R. Wallace,” ujar Dewi.

Menurut Dewi, kondisi alam yaitu adanya laut dalam di sekitar pulau-pulau tersebut mendukung terjadinya proses pembentukan jenis atau dikenal dengan spesiasi.

Dari kesepuluh taksa baru tadi, dua nama jenis dari lima jenis burung baru dianugerahkan kepada mendiang Presiden ketiga Republik Indonesia, B.J Habibie serta tokoh cendekiawan Indonesia, Emil Salim.

“Hal ini merupakan bentuk penghargaan terhadap jasa-jasa kedua tokoh penting tersebut yang sangat peduli terhadap lingkungan dan sangat perhatian terhadap masa depan bangsa,” tambah Dewi.

Dirinya berharap nama besar keduanya tetap abadi untuk menjamin kelestarian dan keberadaan kedua jenis burung tersebut di alam. (hkw)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Ngopi bareng JKN soal premis JKN Previous post Ini Alasannya Mengapa BPJS Kesehatan Tetap Sesuaikan Premi JKN-KIS
Layanan Baru Paspor Ditjen Imigrasi Next post Bikin atau Perpanjang Paspor Kini Tak Ribet, Cukup Pakai WA