Read Time:1 Minute, 39 Second

Ujicoba terbaru telah menunjukkan bahwa menyuntikkan virus flu yang tidak aktif (vaksin flu) ke dalam tumor ganas, dapat membuat ukuran tumornya menyusut dan meningkatkan efektivitas imunoterapi.

Itu terbukti setelah tim peneliti dari Rush University Medical Center, Chicago, Illinois, Amerika Serikat, menggunakan vaksin flu yang disuntikkan ke dalam tubuh tikus.

Para peneliti menjelaskan proses mereka, serta temuan mereka, dalam sebuah makalah studi yang sekarang ditampilkan di jurnal PNAS.

Dalam riset yang dilansir oleh situs Medical News Today (11/1) studi mereka Percobaan terbaru dalam model tikus telah menunjukkan bahwa menyuntikkan virus flu yang tidak aktif ke dalam tumor kanker membuat ukuran kanker menyusut dan meningkatkan efektivitas imunoterapi.

Dalam studi tersebut, mereka mendapat ide untuk studi baru mereka dengan melihat data dari National Cancer Institute. Data menunjukkan bahwa pasien kanker paru-paru yang juga pernah dirawat di rumah sakit telah menderita infeksi paru-paru yang berhubungan dengan influenza cenderung hidup lebih lama daripada mereka yang menderita kanker paru-paru yang tidak memiliki virus flu.



Mereka menemukan bahwa “vaksin” ini mengubah tumor dari dingin menjadi panas dengan meningkatkan konsentrasi sel dendritik dalam tumor. Sel-sel ini dapat merangsang respon kekebalan, dan memang, mereka menyebabkan peningkatan sel T CD8 +. Ini dapat mengenali dan menghancurkan sel-sel kanker.

Juga, para peneliti melihat bahwa pemberian vaksin flu ke dalam tumor melanoma di satu sisi tubuh tikus menyebabkan pengurangan tidak hanya pada pertumbuhan tumor yang disuntikkan, tetapi juga pada pertumbuhan lebih lambat dari tumor lain, pada sisi yang berbeda dari tubuh, yang mereka tidak disuntikkan.

Para peneliti melihat hasil yang sama ketika memberikan vaksin flu ke tumor kanker payudara triple-negative metastatik pada model tikus

“Kami memahami bagaimana tanggapan kekebalan kita yang kuat terhadap patogen seperti influenza dan komponennya dapat meningkatkan tanggapan kekebalan kita yang jauh lebih lemah terhadap beberapa tumor,” kata salah satu peneliti Dr. Andrew Zloza.

“Namun,” tambahnya, “ada banyak faktor yang kita tidak mengerti tentang infeksi hidup, dan efek ini tidak berulang pada tumor di mana infeksi influenza tidak terjadi secara alami, seperti kulit.”

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Layanan Baru DHL Global Forwarding Previous post Nestle Tunjuk DHL Urus Logistik di Myanmar
Planet baru temuan NASA Next post Eksoplanet Sebesar Bumi dan Layak Huni Telah Ditemukan