Ibrahim Agung mempersentasikan terapi nyeri lutut

Jakarta, Warta Bugar – Banyak orang mengeluh nyeri lutut. Tidak sedikit yang tidak berhasil yang menangani, sehingga ia terpaksa pergi ke dokter. Nyeri lutut merupakan penyebab kedua pasien datang ke ruang praktik dokter.

Sedangkan khusus untuk nyeri yang diakibatkan osteoartritis (OA) alias pengapuran sendi, hampir semua orang akan mengalami karena terjadi seiring proses penuaan.

Meski dapat sembuh dengan sendirinya, banyak kasus nyeri lutut yang menetap dan jika tidak diobati dengan segera dapat menghambat aktivitas penderitanya.

Selain nyeri yang mengganggu, penderita umumnya juga mengalami sejumlah gejala lain seperti bengkak, kemerahan, dan kaku atau sulit untuk digerakkan.

Dalam jumpa pers yang digelar di Klinik Patella, Lamina Pain and Spine Center di bilangan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, dr. Ibrahim Agung, SpKFR, mengatakan bahwa sebagian besar penderita nyeri lutut ini menolak untuk dilakukannya operasi. “Padahal mereka masih ingin terbebas dari rasa nyeri,” katanya dalam rilisnya (18/12).

Penyebab nyeri lutut antara lain cedera, masalah mekanis, radang sendi, dan lainnya. Selain cedera pada salah satu ligamennya (anterior cruciate ligament/ACL), ada juga cedera akibat ada masalah pada komponen penyangga lututseperti tendon, tulang rawan, dan kantong cairan sendi (bursa).

Menurut, Ibrahim, nyeri lutut  ini juga bisa disebabkan bursitis yaitu peradangan atau pembengkakan bursa. Kemudian bilaada gangguan mekanis,misalnya iliotibial band syndrome (ITBS), sering dialami oleh para pelari.

Penanganan nyeri lutut ini dapat dilakukan dengan beberapa metode, salah satunya adalah injeksi dengan Platelet-Rich Plasma (PRP). PRP memiliki prinsip kerja regenerasi. Prinsip regenerasi ini dapat dikatakan dapat ‘memudakan’ kembali sendi yang sudah menua.

Terapi ini telah meluas selama beberapa dekade terakhir dan penerapannya tidak dibatasi pada kasus cedera muskuloskeletal akibat olahraga saja namun juga pada kasus degeneratif tulang rawan dan sendi seperti OA.

Selainitu, PRP juga bermanfaat terhadap nyeri lutut yang diakibatkan oleh cedera yang diakibatkan olehover-stretch, partial tear bahkan dalam kondisi complete rupture. Namun dalam kasus ini, PRP dikombinasikan dengan fisioterapi.

Teknologi PRP atau teknologi regeneratif ini merupakan metode terbaru sebagai solusi penuaan sendi dan kerusakan sendi. Manfaat PRP ini cukup beragam.

Di antaranya, membantu memperlambat/memperbaiki proses kerusakan jaringan tulang rawan (kartilago), membantu memperlambat perburukan OA, meningkatkan produksi cairan lubrikasi alami sendi, dan menstimulasi pembentukan jaringan tulang rawan yang baru.

Menurut National Institute for Clinical Excellence (NICE), injeksi PRP untuk membantu mengatasi nyeri lutut akibat OA dapat dikatakan minim risiko.

“Di klinik kami, berdasarkan testimoni, keberhasilannya cukup baik terutama di usia yang lebih muda,” tutur Ibrahim.

Selanjutnya, dr. Ibrahim mengatakan, hampir semuanyeri lutut dapat dituntaskan tanpa operasi.

Namun semua tindakan perlu dan selalu dilakukan dengan USG-guided (terpandu USG), seperti yang kami lakukan di Klinik Patella ini.

“USG-guided ini digunakan untuk memastikan akurasi tindakan dan mencegah kerusakan pada struktur lain di sekitar lutut,” ujar Ibrahim.

Terapi PRP dilakukan dengan mengambil darah pasien – sebanyak kira-kira 8-10 cc – lalu diproses dengan sentrifugasi untuk diambil komponen plasma (platelet) yang nantinya akan disuntikkan ke sendi lutut.

“PRP mengandung faktor pertumbuhan (growth factor) dan protein lain yang dapat merangsang terjadinya proses perbaikan (regenerasi) jaringan, sehingga dapat membantu penyembuhan/perbaikan jaringan yang rusak secara alamiah,” jelas dr. Ibrahim lebih lanjut.

PRP diberikan sebanyak tiga kali (satu kali per bulan) dan dilakukan evaluasi dalm waktu 6 bulan dan 12 bulan. Pasca-PRP juga perlu dipertimbangkan beberapa hal.

Antara lain pemakaian brace (bila perlu), dan melakukan latihan penguatan otot sesuai dengan rekomendasi dokter. Latihan ini juga dapat membantu memperbaiki kekuatan otot dan membantu memperlambat proses degenerasi sendi lebih lanjut. 

PRP dilakukan dengan cara mengambil darah dari pasien, dengan jarum spuit yang berisi antikoagulan. Kemudian disentrifugasi hingga menjadi dua lapisan, yang terdiri dari lapisan bawah (berisi darah merah) dan lapisan atas (berisi plasma).

“Lapisan atas inilah yang mengandung platelet yang kemudian disuntikkan  ke dalam lutut pasien,” kata Ibrahim. (asw)

 249 total views,  1 views today