Read Time:3 Minute, 37 Second

Morgan Stanley (MS) merilis riset nya terkait strategi ekuitas Indonesia dalam “Domestic stimulus to counter external headwinds” yang ditulis oleh Mulya Chandra, Yulinda Hartanto, Deyi Tan dan Zac Su.

Dalam riset itu, MS mengungkapkan bahwa dinamika eksternal masih menantang; tetapi, kombinasi stimulus moneter dan fiskal dapat mendorong kebangkitan bisnis dalam negeri.

MS meyakini bahwa beberapa hal bisa dilakukan untuk membangkitkan bisnis dalam negeri, antara lain gabungan saham defensif dan saham yang sensitif terhadap suku bunga, menghindari stok komoditas, serta menetapkan target MSCI Indonesia menjadi 7.220 (kenaikan 6%) atau 15,0x forward P/E (atau rasio harga ke pendapatan).

Menurut riset itu, Reformasi struktural akan terus berlanjut – reformasi struktural telah mengalami kemajuan dalam beberapa tahun terakhir, dengan tonggak utama dari:

1)    Kebijakan moneter yang lebih kuat, sehingga mendorong inflasi yang lebih stabil serta cenderung menurunnya suku bunga nominal

2)    Kebijakan fiskal yang lebih teratur

3)    Percepatan pengeluaran infrastruktur

MS dalam keterangan persnya (22/10/2019), juga menuliskan bahwa pemerintah melanjutkan agenda reformasi untuk mencapai sistem pajak dan tenaga kerja yang lebih kompetitif dan efisien. Baru-baru ini, pemerintah memotong pajak properti dan menawarkan pengurangan pajak atas inisiatif padat karya / R&D.

Hal tersebut bertujuan untuk memotong tarif pajak perusahaan dari 25% menjadi 17% sehingga dapat meningkatkan daya saing.

Ekonom Asia Morgan Stanley, Deyi Tan memperkirakan bahwa hal tersebut akan menyebabkan hilangnya pendapatan sebesar 0,6% dari PDB dan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi dalam waktu dekat, kemungkinan akan berkisar +0.1 hingga +0.2 ppt.

Defisit fiskal tahun 2020 dianggarkan sebesar 1,8% dari PDB sebelum stimulus (keluar dari batas tertinggi 3,0%). Dampaknya pada perusahaan bisa lebih besar dengan potensi kenaikan laba bersih 4-11%.

Perselisihan antara stimulus domestik dan dinamika eksternal dapat menyebabkan volatilitas pasar jangka pendek. Tantangan eksternal berasal dari berbagai faktor:

1)    Likuiditas domestik (LDR bank pada 94% pada Juli-19 dan kepemilikan asing pada obligasi pemerintah pada 38,6% pada Sep-19) yang membuat ketergantungan lebih tinggi pada pendanaan asing;

2)    Pasar ekuitas yang relatif kurang likuid dibandingkan negara-negara lain (kapitalisasi pasar / PDB 47% pada tahun 2018) dan secara historis naik turunnya aliran dana asing yang begitu dinamis.

Walaupun dampak pertumbuhan domestik dari dinamika aliran dana tersebut telah berkurang dalam beberapa tahun terakhir.

Ketergantungan yang tinggi pada pendanaan asing tidak mungkin diselesaikan sebelum pembuat kebijakan dapat meningkatkan produktivitas non-komoditas dengan meningkatkan infrastruktur dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia; yang dapat membantu meningkatkan suku bunga tabungan dan memacu pertumbuhan.

Kemudian MS lebih merujuk pada saham defensif dengan pendapatan berulang; misalnya Telekomunikasi / menara, staples konsumen, dan utilitas.

Morgan Stanley juga lebih condong pada saham yang mengambil manfaat dari siklus dovish (dengan potensi penurunan suku bunga 100 bps pada tahun 2019), seperti bank dan properti. Di sisi lain, MS menjauhi saham komoditas di tengah tren perlambatan global.

Target Juni 2020 MSCI Indonesia sebesar 7.220 mencerminkan kenaikan 6%. Hal ini didasarkan pada 15,0x P / E, rata-rata 5 tahun, yang MS perkirakan akan berkelanjutan. Tim strategi regional MS adalah OW Indonesia dalam alokasi pasar model APxJ / EM; dimana MS memperkirakan pertumbuhan EPS 9,7% untuk 2020.

MS menambahkan, goncangan eksternal adalah risiko nyata bagi ekonomi di mengatasi goncangan tersebut itulah yang penting bagi pasar ekuitas.

Adapun penggerak kunci positif untuk Indonesia adalah:

1)    Dorongan bersama dari otoritas fiskal dan moneter dalam memberikan stimulus, yang didukung oleh ruang yang cukup untuk penurunan suku bunga dan RRR serta penyangga defisit fiskal untuk dioptimalkan.

2)    Kegiatan bisnis yang berpotensi ditingkatkan, mengikuti pemilihan umum yang damai serta pembentukan kabinet baru yang akan memberikan visibilitas multi-tahun.

3)    Likuiditas domestik yang diuntungkan dari siklus pelonggaran global yang dovish, menghalangi setiap lonjakan premis risiko EM.

Selain menganjurkan portofolio yang seimbang untuk saham yang defensif dan sensitif terhadap harga untuk Indonesia. MS juga menyarankan bank dan stok properti sebagai proksi untuk tema penurunan suku bunga.MS turut menyarankan untuk menghindari sektor energi, terutama yang terdiri dari saham batu bara di tengah tren penurunan global.

Sementara itu, peningkatan kontribusi dari sektor swasta dapat membuat perbedaan bagi perekonomian Indonesia. Dari memiliki pengeluaran yang terkait dengan pemerintah sebagai satu-satunya mesin pertumbuhan bagi perekonomian, hingga memiliki mesin pertumbuhan kedua dari pemulihan sektor swasta. (hkw)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Air dan CO2, bisa jadi bahan bakar Previous post Daun Buatan Bisa Dibuat Untuk Bahan Bakar Gas Loh
Perlu lakukan nutrisi dipersonalisasi Next post Kolagen Pun Dipakai Sebagai Bahan Nutrisi di Pameran Ini