Read Time:2 Minute, 30 Second

Dalam rangka menyambut Hari Penglihatan Sedunia (World Sight Day) 2019, Syamsi Dhuha Foundation (SDF), kembali ajak para Difabel Netra (DN) agar tidak ‘Mager’ (males gerak) dan ‘Tager’ (takut gerak).

Yaitu dengan mengajak mereka bergabung di ‘Blind Run & Walk’. Acara yang berlangsung 12 Okrober 2019, berlangsung di Saraga Intitut Teknologi Bandung (ITB).

Ini merupakan pembukaan puncak acara dari rangkaian kegiatan SDF tandai WSD 2019 kerjasama dengan Sekolah Farmasi ITB, yang tahun ini bertemakan ‘Vision First’.

Sebelumnya SDF telah lakukan pula beberapa program edukasi dan sosialisasi, seperti : Nobar (nonton bareng) film motivasi, Lovies Environment Care sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan Lovies Beauty Class agar sahabat DN miliki keterampilan berhias.

Menurut keterangan persnya (13/10/2019), Blind Run & Walk akan diikuti oleh lebih dari 200 peserta, terdiri dari para DN dan care giver (pendamping tuk berlari/ berjalan) yang berasal dari berbagai komunitas dengan beragam usia. 

Acara kemudian akan dilanjutkan di Gedung CRCS ITB, dengan rangkaian : Peluncuran buku nyaring elektronik ‘Petualangan Dana’ yang merupakan hasil kerjasama SDF dengan Prodi Desain Komunikasi Visual ITB. 

Buku nyaring elektronik ini dibacakan secara bilingual: Indonesia dan Inggris. Sedangkan untuk versi cetaknya, buku bergambar 24 halaman ini di desain dengan pewarnaan kontras, layout dan spasi berjarak, ukuran huruf yang relatif besar dan diberi tactile tuk dapat diraba.

Tak hanya itu, SDF juga perkenalkan hasil pengembangan desain tongkat tuna netra I-Cane hasil kerjasama SDF dengan Prodi Desain Produk dan Biomedika ITB.

I-Cane ini dilengkapi GPS tuk bisa lacak keberadaan DN saat disorientasi/ kehilangan arah, sensor penghalang yang keluarkan bunyi dan roda di ujung tongkat yang permudah pergerakan dan bisa berubah sebagai tumpuan saat harus naik tangga atau di atas permukaan yang tak rata. 

 “ Dian Syarief, Ketua SDF yang juga penyandang Low vision, mengharapkan Low Vision Center SDF dapat menjadi salah satu wadah bagi penyandang DN untuk berinteraksi, berkreasi dan sebagai penghubung dengan berbagai lembaga/ institusi lainnya. Yang SDF coba hidupkan adalah semangat tuk berkreasi dan berinovasi.

“Tak mudah patah, tak mudah menyerah dengan situasi dan kondisi yang kerap kali kurang kondusif. Mampu melihat dan menangkap peluang dari celah sempit, mensiasati kesulitan yang menghadang di depan mata”, ucap Dian.

Mewarnai jalannya acara, difasilitasi pula konsultasi mata gratis komprehensif bersama para dokter spesialis mata dari PMN RSM Cicendo dan konsultan Informasi Teknologi agar DN tak buta teknologi sehingga dapat kembangkan potensi dirinya dan lebih produktif.

Sebagai puncak acara, ditampilkan Kasyfi Kalyasyena – pianis muda asal Garut yang raih penghargaan di kompetisi internasional bagi disabilitas, The Kennedy Center VSA (Very Special Arts) International Young Soloists Competition 2019 di Washington DC, AS, persembahkan ‘Winter Games’.

Tak ketinggalan penampilan para DN yang telah dilatih menari oleh para relawan.

“Butuh kesabaran tuk melatih para DN ini, karena tanpa melihat tak mudah bagi mereka tuk lakukan gerakan seperti yang seharusnya. Semangat tinggilah yang akhirnya hantarkan mereka tuk bisa menari”, papar Laila Panchasari – Manajer SDF.

Di penghujung acara para DN berkolaborasi tuk persembahkan berbagai lagu motivasi, seperti : ‘I Believe I Can Fly’, ‘Mengejar Matahari’, ‘Di atas Awan’, ‘Merakit Mimpi’ dan ‘Kita Bisa’.  (sah)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Tes Diagnosa yang dapat mendeteksi kanker melalui setetes darah. Previous post Kenali Tumor Otak Dengan Tes Darah
4 Tips Greenhouse supaya event sukses Next post Menjamurnya Co-working Space di ASEAN*