Read Time:1 Minute, 51 Second

Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas berkolaborasi dengan Pemerintah Indonesia, International Tropical Timber Organization(ITTO), Belantara Foundation, perwakilan bisnis dari Jepang dan Indonesia, serta masyarakat setempat untuk menanam 10.000 bibit pohon di hutan yang terdegradasi.

Para peserta menanami area seluas 20 hektare di kawasan Giam Siak Kecil, Riau dengan bibit pohon jelutong dan berbagai pohon buah-buahan lokal.

Inisiatif penanaman pohon tahunan yang telah berjalan untuk keenam kalinya ini merupakan salah satu wujud komitmen APP Sinar Mas untuk mendukung perlindungan dan restorasi hutan di Indonesia.

Hal ini sejalan dengan rekomendasi ahli ekologi tanaman dari Yokohama National University di Jepang, Professor Akira Miyawaki. 

Pada kunjungannya ke area konservasi perusahaan tahun 2014 lalu, Miyawaki merekomendasikan penanaman spesies tumbuhan endemik demi mempercepat pemulihan hutan yang rusak.

Sejak itu, 42.000 pohon dari berbagai spesies lokal telah ditanam di 87 hektare area konservasi. 

Dalam keterangan persnya, Direktur Sustainability and Stakeholder Engagement APP Sinar Mas Elim Sritaba mengatakan, restorasi dan konservasi hutan di Indonesia adalah bagian dari komitmen APP SInar Mas yang tertuang dalam Kebijakan Konservasi Hutan (FCP)nya.

“Dengan berkolaborasi bersama berbagai mitra, baik dari dalam maupun luar negeri seperti lewat kegiatan penanaman pohon hari ini, kita dapat berkontribusi secara nyata terhadap Aksi Iklim, salah satu Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) yang dicanangkan oleh PBB,” kata Elim.

Tahun ini, penanaman pohon dilakukan di area konservasi terdegradasi seluas 20 hektare milik mitra pemasok APP Sinar Mas, PT Arara Abadi, yang berlokasi di Giam Siak Kecil.

Penanaman spesies tanaman lokal akan membantu rehabilitasi kawasan tersebut, yang juga dikenal sebagai tempat tinggal harimau dan gajah Sumatra. 

Masyarakat setempat juga turut berpartisipasi dalam kegiatan ini dan akan membantu perusahaan untuk melindungi kawasan tersebut dari perambahan ilegal.

Di masa depan, masyarakat ini juga akan mendapat manfaat dari hutan yang telah dipulihkan melalui produk-produk non-kayu seperti getah pohon dan buah.

Sementara itu Direktur Eksekutif Great Forest Wall Project Makoto Nikkawa menjelaskan bahwa inisiatif penanaman pohon ini memainkan sejumlah peran penting.

“Merehabilitasi dan melindungi hutan membantu perekonomian masyarakat setempat karena dapat menjaga dan menambah mata pencaharian mereka,” ujar Makoto.

Kegiatan seperti ini, lanjut Makoto, juga akan memiliki dampak positif secara global, yaitu membantu memerangi perubahan iklim dan merawat hubungan harmonis antara manusia dan lingkungannya. (ast)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Achmad Sigit dalam Science Technology Forum Previous post Shell Gelar Shell Technology Forum, Tampilkan Inovasi
Investment Summit 2019 Next post BEI-RHB Sekuritas Adakan IDX-RHB Investment Summit di Yogyakarta