Read Time:2 Minute, 3 Second

Bencana banjir dan longsor di Bengkulu terus memakan korban. Hingga Ahad (28/4/2019), 17 orang meninggal dunia. Korban sebanyak itu tersebar di Kabupaten Bengkulu Tengah 11 orang, Kota Bengkulu 3 orang, dan Kabupaten Kepahiang 3 orang.

Selain itu dilaporkan 9 orang hilang, 2 orang luka berat dan 2 orang luka ringan. Kemudian, sebanyak 12.000 orang mengungsi yang tersebar do banyak tempat dan 13.000 orang terdampak bencana.

Lalu, jumlah ternak yang mati sebanyak 106 ekor sapi, 102 ekor kambing/domba dan 4 ekor kerbau. Sedangkan kerusakan fisik meliputi 184 rumah rusak, 7 fasilitas pendidikan dan 40 titik sarana prasarana infrastruktur.

Jumlah bantuan pun mulai berdatangan. Bahkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana Doni Monardo menyerahkan bantuan dana siap pake Rp 2,25 miliar yang disalurkan lewat Gubernur Bengkulu. Nantinya uang tersebut diberikan kepada BPBD daerah yang terdampak bencana.

Doni mengatakan kepada jajaran BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) dan SKPD setempat bahwa bencana hidrometeorologi terus meningkat. Dampak ekonomi yang ditimbulkan juga cukup besar sehingga mengganggu pertumbuhan pembangunan.

Selain faktor alam yaitu intensitas curah hujan yang meningkat, faktor antropogenik yaitu ulah tangan manusia yang merusak alam dan lingkungan lebih dominan menyebabkan bencana hidrometeorologi meningkat.

Selanjutnya ia mengatakan bahwa deforestasi, degradasi hutan dan lingkungan, berkurangnya kawasan resapan air, lahan kritis, tingginya kerentanan, tata ruang yang tidak mengindahkan peta rawan bencana dan lainnya telah menyebabkan makin rentannya daerah-daerah terhadap banjir.

“Kita harus memulihkan alam. Merawat alam dan lingkungan. Jika alam seimbang maka siklus hidrologi juga akan seimbang. Kita jaga alam, alam jaga kita,” ujarnya dalam keterangan pers (29/4/2019).

Kendala yang dihadapi dalam penanganan darurat saat ini adalah sulitnya untuk menjangkau ke lokasi titik-titik banjir dan longsor dikarenakan seluruh akses ke lokasi kejadian terputus total.

Koordinasi dan komunikasi ke Kabupaten/ Kota cukup sulit dilakukan karena aliran listrik banyak yang terputus. Pendistribusian logistik terhambat karena akses jalan banyak yang terputus karena banjir dan longsor.

Titik lokasi bencana banjir dan longsor sangat banyak sedangkan jarak antar titik banjir dan longsor berjauhan, sehingga menyulitkan untuk mencapai semua lokasi. Terbatasnya dana/anggaran yang memadai sehingga menyulitkan operasional penanganan bencana.

Kebutuhan mendesak saat ini adalah tenda pengungsian, perahu karet,  selimut, makanan siap saji, air bersih, family kid, peralatan bayi, lampu emergency, peralatan rumah tangga untuk membersihkan lumpur dan lingkungan, sanitasi, dan jembatan baley.

BPBD masih melakukan pendataan dampak bencana dan penanganan bencana. “Masyarakat dihimbau untuk tetap meningkatkan kewaspadaan mengingat potensi hujan berintensitas tinggi masih dapat berpotensi terjadi di wilayah Indonesia,” ujarnya Doni. (hkw)
 

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

About Post Author

buah beri atasi penyakit flu Previous post Kena Flu? Makan Buah Beri Jenis Ini Saja
Malware serang handphone Next post Peneliti AS Temukan Malware Yang Masuk Jaringan Lewat HP