Read Time:2 Minute, 23 Second

Leukemia merupakan penyakit keganasan hematologik yang paling sering terjadi pada anak, tipe leukemia limfoblastik akut (LLA) merupakan penyebab kematian tertinggi pada anak penderita kanker.

Menurut keterangan persnya dari FKUI (18/4/2019), angka keberhasilan pasien LLA mencapai remisi setelah fase induksi lebih dari 90%.

Namun di negara maju, 11% di antaranya mengalami relaps pada fase pemeliharaan. Sedangkan di RS Cipto Mangunkusumo angka relaps masih sebesar 28,7%.

Untuk mencapai remisi yang lama, pasien LLA membutuhkan terapi fase pemeliharaan selama 2−3 tahun dengan merkaptopurin (6MP) sebagai obat utama.

Obat 6MP, menurut dr. Dewi Selvina Rosdiana Hutapea, M.Kes , dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, bersifat mielosupresi untuk menekan pertumbuhan sel blas.

Namun di sisi lain dapat menimbulkan efek samping mielotoksisitas, yang tidak hanya mengancam jiwa, namun juga merupakan penyebab utama penghentian terapi, yang dapat meningkatkan risiko relaps.

Manfaat dan keamanan 6MP dipengaruhi oleh aktivitas enzim thiopurine methyl transferase (TPMT). Enzim TPMT memetabolisme 6MP menjadi metabolit yang kurang aktif, 6-methyl mercaptopurine.

“Aktivitas enzim TPMT ini dipengaruhi polimorfisme genetik autosom ko-dominan pada berbagai populasi etnik. Pasien dengan genotip alel mutan TPMT, memiliki aktivitas enzim TPMT yang rendah dibandingkan genotip normal,” ujarnya dalam ringkasan disertasi yang mengantarkannya meraih gelar Doktor dalam promosinya di FKUI.

Sehingga menyebabkan 6MP lebih banyak dimetabolisme menjadi metabolit aktifnya, 6- thioguanine nucleotide (6TGN). Hal ini mengakibatkan meningkatnya risiko hematotoksisitas (keracunan darah) pada pasien dengan genotip alel mutan.

Panduan pengobatan di negara barat merekomendasikan pemeriksaan rutin genotip TPMT untuk penyesuaian dosis awal 6MP guna menghindari hematotoksisitas.

Pasien dengan alel mutan TPMT heterozigot diberikan 6MP mulai dengan 30-70% dari dosis standar, dan pasien alel mutan TPMT homozigot diberikan sepersepuluh dosis standar 6MP.

Sejumlah studi menilai hubungan genotip TPMT dengan hematotoksisitas di populasi Asia telah dilakukan, namun hasilnya masih kontroversial.

Penelitian yang dilakukan Dewi menunjukkan bahwa pada pasien LLA anak di RSCM (Rumah Sakit Cipto Mangunkusumoa) dan RS Kanker Dharmais, frekuensi alel mutan TPMT < 1%, dan tidak ada hubungan genotip TPMT dengan hematotoksisitas.

Studi Dewi mengonfirmasi bahwa pemeriksaan rutin genotip TPMT di klinik tidak diperlukan. Prosedur yang dilakukan di klinik selama ini telah memadai, yaitu penyesuaian dosis 6MP dilakukan berdasarkan pada respons klinis pasien dan hasil pemeriksaan darah, yang mudah dilakukan dan biaya yang murah.

Kadar obat aktif di dalam darah berhubungan dengan hematotoksisitas, namun pengukuran kadar obat aktif di dalam darah memiliki beberapa kekurangan antara lain: sampai saat ini belum ada rentang kadar terapi obat 6MP yang disepakati untuk pasien LLA anak.

Hal ini disebabkan adanya variasi kadar obat aktif antar- dan intrapasien; membutuhkan biaya yang cukup mahal; dan hasil pengukuran sangat dipengaruhi kepatuhan pasien minum obat.

Pada riset Dewi juga ditemukan bahwa karakteristik pasien tidak berhubungan dengan hematotoksisitas.

“Namun indeks massa tubuh (IMT) ≤ 16,6 kg/m2 meningkatkan risiko anemia, dan kadar albumin serum ≤ 4,2 g/dL meningkatkan risiko trombositopenia,” kata Dewi dalam abstraknya. Trombositopenia adalah kondisi darah kekurangan trombosit. (sgh)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
BlackBerry tutup aplikasi BBM, BBMe Previous post BlackBerry Tutup Aplikasi BBM, Ini Gantinya
Penumpang Lion Air diamakan petugas karena mengaku bawa bom Next post Gara-gara Cerita Ada Bom, Penumpang Lion Air Diamankan