Read Time:1 Minute, 39 Second

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) melalui BCA Learning Service kembali menggelar Indonesia Knowledge Forum (IKF) VI di di The Ritz Carlton Pacific Place, JAkarta Selatan,  pada 3  4 Oktober 2017. Forum tersebut merupakan bagian dari komitmen BCA dalam mendukung pengembangan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Mengambil tema “Elevating Creativity & Innovation Through Digital Collaboration, IKF VI 2017 menghadirkan 23 pembicara yang kompeten di bidangnya, baik dari dalam maupun luar negeri, untuk berbagi ilmu, pengalaman serta inspirasi dalam mengembangkan dunia bisnis berbasis digital.

Hadir untuk membuka IKF VI 2017 , Komisaris BCA Cyrillus Harinowo mengungkapkan Pesta Akbar Pengetahuan tersebut digelar sebagai wadah One Stop Knowledge Solution bagi setiap pelaku bisnis yang membutuhkan strategi digital untuk diterapkan dalam organisasinya.

“Dengan tetap berfokus pada tema besar Moving Our Nation to the Next Level’ yang  berlandaskan pada semangat untuk membangun negeri melalui pengetahuan, IKF VI 2017 ini diharapkan mampu menjadi wadah berbagi inspirasi seputar bisnis ekonomi digital demi kemajuan dunia usaha dan masyarakat Indonesia, ujar Cyrillus Harinowo, Komisaris BCA, dalam rilisnya.

Pada hari pertama gelaran IKF VI 2017 ini, Seminar Peta Perekonomian di Era Digital menghadirkan narasumber yang sudah tak asing, yakni Pengamat Ekonomi Faisal Basri. Selanjutnya, dihelat juga seminar lainnya yang menghadirkan narasumber mumpuni diantaranya, Partner dan Presiden Direktur McKinsey Indonesia Philia Wibowo, Celebrity Investor Ashraf Sinclair, dan Founder & Managing Kejora Group Sebastian Togelang.

Tidak kalah menarik, IKF VI 2017 juga dilengkapi serangkaian expo dan exhibition yang diikuti oleh 35  start up dan penyedia pengetahuan teknologi terpilih yang diharapkan dapat menjadi inspirasi dan pengetahuan baru bagi perkembangan dunia usaha masyarakat Indonesia.

Kami mencermati perkembangan start up belakangan ini sangat pesat, dan melalui gelaran IKF VI 2017 ini, kami ingin memfasilitasi pertukaran ide, inovasi, dan kreativitas dalam memanfaatkan perkembangan teknologi saat ini untuk menjadi entrepreneur.

Gelaran ini juga adalah bagian upaya kami melalui BCA Learning Service untuk memberikan nilai tambah bagi pengembangan kualitas sumber daya manusia melalui pembelajaran yang memadai dari narasumber-narasumber yang mumpuni dari sisi pengetahuan dan pengalaman, tegas Cyrillus.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
BPJS Kesehatan: Klinik Mitra BPJS Kesehatan Harus Taat Regulasi Previous post
Plug and Play (PnP), salah satu startup accelerator di dunia dan yang hadir yang hadir di Indonesia mengaku siap untuk terus mendanai startup-startup di Indonesia melalui program akseleratornya. PnP diketahui telah berinvestasi di lebih dari 2,000 startup di seluruh dunia. Beberapa alumni global Plug and Play adalah Dropbox, Lending Club, dan Paypal. Di Indonesia, Plug and Play yang bekerja sama dengan Gan Konsulindo (GK) telah meluluskan 9 startup batch pertamanya, seperti Astronaut, Brankas, Bustiket, DANAdidik, Karta, KYCK, Otospector, Sayurbox, dan Wonderworx pada September lalu. Hingga saat ini, pihak Plug and Play Indonesia terus aktif mencari startup potensial di Indonesia untuk masuk ke dalam program kami. Setidaknya akan ada lebih dari 200 startup yang mendaftar. " Kami tidak akan membatasi berapa jumlah yang masuk selama startup tersebut memang berpotensi memberikan dampak positif untuk Indonesia,” tutur Wesley Harjono selaku President Director GK – Plug and Play Indonesia (GK – PnP), dalam rilisnya (09/10/2017). Dalam program yang berjalan selama 3 bulan itu, startup terpilih akan mendapatkan berbagai fasilitas. Mulai dari seed funding, mentorship, coworking space gratis, akses ke Silicon Valley, hingga kesempatan kerjasama dengan korporasi. Saat ini, GK – Plug and Play Indonesia diketahui memiliki 4 corporate partners, yaitu Astra International, BNI, BTN, dan Sinar Mas. “Kami memberikan fasilitas menyeluruh supaya startup-startup ini dapat fokus untuk product development. Harapannya, setelah lulus dari program ini mereka sudah benar-benar siap untuk go-to-market dan menerima pendanaan berikutnya,” lanjut Wesley. Ada pun persyaratan umum untuk masuk ke dalam program akselerator GK – PnP cukup simple, yaitu sudah memiliki produk alpha / beta. Selain itu, startup yang mendaftar juga harus berbasis di Indonesia. Hal ini dilakukan mengingat keberadaan Plug and Play di Indonesia untuk mendukung program pemerintah yang ingin menjadikan Indonesia sebagai pusat perekonomian digital pada tahun 2020. Next post Plug and Play Indonesia Siap Danai Start Up Indonesia