Yayasan Bulir Padi Luncurkan Gerakan Anak Cinta Buku

Yayasan Bulir Padi (Bulir Padi) meluncurkan program Gerakan Anak Cinta BukuPeluncurannya dilakukan pada Sabtu (31/3/2018). Tujuannya, membangun dan mendukung kecintaan anak terhadap buku sebagai sumber belajar sehingga mampu membangun daya pikir kritis anak dengan baik.

Program ini juga dimaksudkan untuk optimalisasi minat membaca buku di Pustaka Bulir Padi dan akan dilaksanakan pada 31 Maret – 22 April 2018. Kelompok sasaran program ini adalah 50 anak bina Yayasan Bulir Padi dengan jenjang pendidikan SMP & SMA/K di lokasi operasional Bulir Padi di RW Palmerah dan RW Bidaracina, Jakarta.

Ketua Yayasan Bulir Padi Tia Sutresna mengatakan bahwa misi Yayasan Bulir Padi adalah memberikan akses pendidikan untuk memberdayakan anak bina kami menjadi pribadi mandiri yang dapat membantu meningkatkan taraf hidup keluarga dan komunitasnya. Pihaknya percaya penting untuk mendukung kecapakan literasi anak guna membentuk kemampuannya dalam mengakses, memahami, dan mengevaluasi informasi yang dibaca.”Semakin baik kecakapan literasi anak maka semakin baik kemampuan anak untuk memahami dan menyerap informasi dan pengetahuan dalam proses pendidikannya,” katanya dalam rilisnya (31/3/2018).

Tahun ini Bulir Padi tetap berkomitmen untuk meningkatkan minat baca dan literasi anak melalui program Gerakan Anak Cinta Buku, dimana kami melakukan inovasi metode dengan harapan program kami dapat berdampak positif dalam proses belajar anak sehingga dapat membentuk anak-anak bina Bulir Padi yang mampu memiliki daya pikir kritis,” tambahnya.

Langkah Bulir Padi itu karena menurut laporan “World Development Report 2018: Learning to Realize Education’s Promise” yang diterbitkan oleh Bank Dunia pada bulan September 2017, tanpa proses belajar yang baik maka pendidikan anak tidak akan dapat mencapai tujuannya untuk menghapus kemiskinan ataupun dalam membentuk peluang usaha dan kesejahteraan bersama.

Laporan ini juga menyampaikan bahwa saat ini ada fenomena krisis pembelajaran (learning crisis), dimana riset menemukan walaupun anak sudah melalui bangku sekolah selama bertahun-tahun namun masih banyak siswa di berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia, anak yang termajinalkan karena kemiskinan, konflik, gender atau difabel mencapai usia dewasanya tanpa memiliki kecakapan hidup (life skills) dasar yang diperlukan.

Menurut laporan ini pula, dengan adanya pendidikan yang baik maka anak itu terjanjikan mendapatkan kesempatan untuk lapangan pekerjaan, pendapatan yang lebih baik, kesehatan yang baik dan kehidupan tanpa kemiskinan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*